
Pantau - Badan Karantina Indonesia (Barantin) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkuat integrasi pengawasan lintas batas melalui pertukaran data dan deteksi dini di pelabuhan, bandara, serta wilayah perbatasan untuk mengantisipasi perkembangan modus penyelundupan narkotika yang semakin kompleks.
Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengatakan penguatan pengawasan lintas batas memerlukan kolaborasi antarlembaga karena tingginya lalu lintas perdagangan, mobilitas barang, aktivitas di pelabuhan dan bandara, serta banyaknya wilayah perbatasan yang harus diawasi.
Ia mengungkapkan, "Modus-modus narkotika itu terus berkembang dan tidak sedikit yang lewat border-border yang menjadi kewenangan Badan Karantina."
Integrasi Sistem dan Deteksi Dini
Barantin memiliki sistem penelusuran dan pengecekan dini yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengawasan bersama dengan BNN.
Salah satu sistem yang digunakan adalah Best Trust yang mampu memantau informasi secara real-time, mendukung deteksi dini di titik masuk negara, serta membantu identifikasi aktivitas mencurigakan.
Karding menjelaskan, "Kita connect-kan dengan sistem BNN. Jadi begitu kita melihat di border itu ada yang mencurigakan atau temuan, kita langsung lapor."
Menurut Karding, integrasi sistem pengawasan menjadi semakin penting karena pola penyelundupan narkotika terus berkembang dengan berbagai bentuk baru.
Ia mencontohkan temuan ganja dari Jerman yang diselipkan dalam komoditas pakan dengan jumlah mencapai lebih dari 800 kilogram.
Data Barantin menunjukkan nilai ekspor komoditas karantina Indonesia pada periode Januari hingga Oktober 2025 mencapai Rp304,7 triliun.
Penguatan pengawasan lintas batas juga dinilai penting untuk menjaga kelancaran perdagangan, keamanan hayati nasional, dan melindungi pintu masuk negara dari berbagai upaya penyelundupan.
Modus Narkotika Cair dan Percepatan MoU
Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto menyatakan perkembangan narkotika saat ini menuntut penguatan kerja sama lintas lembaga karena bentuk dan pola penyelundupan terus berubah.
Ia mengatakan, "Sekarang bentuknya bukan hanya padat, serbuk, pil, dan tanaman saja, tapi sudah berbentuk cairan."
Dalam Operasi Saber Bersinar yang dilaksanakan pada Mei 2026, BNN berhasil mengungkap 715 kasus narkotika dan menyita barang bukti senilai Rp211,4 miliar.
Suyudi menyebut Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengawasan narkotika karena memiliki banyak pintu masuk resmi maupun jalur tidak resmi yang rawan dimanfaatkan jaringan narkotika internasional.
Tren penggunaan rokok elektrik atau vape juga menjadi perhatian khusus karena dalam sejumlah kasus ditemukan narkotika jenis baru berupa etomidat berbentuk cair.
Ia menjelaskan, "Ini juga menjadi perhatian kita bersama karena seringkali kita, BNN, Polri, dan juga Bea Cukai mengungkap narkotika jenis baru, etomidat khususnya, berbentuk cair dan seringkali masuk ke rokok-rokok elektrik."
Selain integrasi data, Barantin dan BNN berencana memperkuat koordinasi pengawasan di sejumlah titik rawan untuk mengantisipasi masuknya narkotika melalui berbagai jalur.
Sebelumnya, Barantin telah menerapkan sistem preborder dan layanan digital karantina untuk mempercepat arus barang, menekan waktu tunggu di pelabuhan dan bandara, serta mengurangi biaya logistik.
Kedua lembaga juga sepakat mempercepat penyusunan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama teknis guna memperkuat pengawasan serta pencegahan narkotika di pintu masuk negara.
Suyudi menegaskan, “Kita akan menyegerakan (penandatanganan MoU). Tim dari Badan Karantina juga bersama tim BNN untuk duduk mengkaji apa saja yang harus kita buat dalam kerja sama itu.”
- Penulis :
- Shila Glorya





