HOME  ⁄  Nasional

PLN EPI Sebut Pengembangan Bioenergi Berpotensi Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja dan Dongkrak Ekonomi Nasional

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

PLN EPI Sebut Pengembangan Bioenergi Berpotensi Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja dan Dongkrak Ekonomi Nasional
Foto: Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir (sumber: PT PLN EPI)

Pantau - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyatakan pengembangan bioenergi berpotensi menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja baru dalam tiga hingga empat tahun ke depan, sekaligus menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp11 triliun dan mengurangi emisi sekitar 12 juta ton karbon dioksida (CO2) jika implementasi biomassa mencapai 10 juta ton per tahun di pembangkit listrik.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Series #3 bertajuk Utilisasi BioEnergy di PLN untuk Mendukung Ketahanan Energi Indonesia yang berlangsung di Institut Teknologi PLN Jakarta.

Ia mengungkapkan, "Kalau implementasi biomassa mencapai 10 juta ton per tahun di pembangkit, nilai ekonominya bisa mencapai Rp11 triliun. Reduksi emisinya sekitar 12 juta ton CO2 dan potensi tenaga kerja yang tercipta bisa mencapai 150 ribu orang dalam tiga sampai empat tahun."

Biomassa Jadi Solusi Transisi Energi

Hokkop menjelaskan biomassa menjadi salah satu solusi transisi energi yang dapat diterapkan dengan cepat melalui program co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Co-firing merupakan metode pencampuran biomassa dengan batu bara dalam proses pembangkitan listrik.

Melalui skema tersebut, sebagian penggunaan batu bara digantikan oleh biomassa yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, serta limbah organik lainnya.

Biomassa diposisikan sebagai energi transisi untuk membantu menurunkan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan sistem kelistrikan nasional.

Hokkop menegaskan, "Bioenergi bukan untuk menggantikan pembangkit fosil secara total dalam waktu singkat, melainkan menjadi solusi transisi yang memungkinkan penurunan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional."

Saat ini PLN telah mengimplementasikan program co-firing biomassa di 52 PLTU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sepanjang 2025, pemanfaatan biomassa mencapai sekitar 2,35 juta ton dan berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar 2,57 juta ton CO2 ekuivalen.

PLN juga telah memanfaatkan sedikitnya 14 jenis biomassa sebagai bahan bakar alternatif dengan nilai kalor rata-rata mencapai 3.152 kilokalori per kilogram.

Jenis biomassa yang digunakan antara lain cangkang sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang telah diolah.

Potensi Besar dan Tantangan Rantai Pasok

Indonesia memiliki potensi biomassa mencapai 83,4 juta ton per tahun yang tersebar di berbagai wilayah.

Potensi terbesar berada di Sumatera dengan kapasitas sekitar 42,8 juta ton per tahun.

Kalimantan memiliki potensi biomassa sekitar 18,9 juta ton per tahun.

Pulau Jawa memiliki potensi biomassa sekitar 13,1 juta ton per tahun.

Meski memiliki potensi besar, konsumsi bioenergi nasional saat ini baru mencapai 0,35 gigajoule per kapita per tahun atau masih jauh di bawah potensi yang dapat dicapai sebesar 6,5 gigajoule per kapita per tahun.

Hokkop mengatakan, "Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pasok yang terintegrasi, sehingga potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan mendukung ketahanan energi nasional."

Selain biomassa padat, PLN EPI juga mengembangkan bioenergi berbasis biogas dan biohidrogen sebagai bagian dari energi terbarukan masa depan.

Salah satu proyek yang dikembangkan adalah pemanfaatan gas metana dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi alternatif pengganti gas alam.

Menurut Hokkop, "Metana memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida. Dengan menangkap dan memanfaatkannya sebagai energi, kita tidak hanya menghasilkan energi bersih tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca."

PLN EPI saat ini juga mengembangkan sistem digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memantau rantai pasok biomassa secara nasional dan mengawasi operasional program co-firing di berbagai wilayah Indonesia.

Pengembangan biomassa dinilai tidak hanya mendukung penyediaan energi, tetapi juga membuka peluang usaha baru pada sektor pengumpulan bahan baku, pengolahan biomassa, logistik, distribusi, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan.

PLN EPI terus mendorong keterlibatan petani, koperasi, kelompok usaha desa, dan generasi muda dalam rantai pasok biomassa nasional.

Hokkop menegaskan, "Transaksi bisnis biomassa nasional telah menunjukkan perkembangan positif dan menjadi peluang ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat."

Secara keseluruhan, pengembangan bioenergi dinilai berpotensi mendukung transisi energi, menurunkan emisi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Penulis :
Leon Weldrick