HOME  ⁄  Nasional

Jawa Timur Raih Penghargaan Nasional dan Insentif Rp3 Miliar Berkat Penurunan Pengangguran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Jawa Timur Raih Penghargaan Nasional dan Insentif Rp3 Miliar Berkat Penurunan Pengangguran
Foto: (Sumber : Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menerima penghargaan dari Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago. (ANTARA/HO-Biro Adpim Pemprov Jatim).)

Pantau - Pemerintah Provinsi Jawa Timur meraih penghargaan Terbaik I kategori penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Jawa-Bali yang digelar Kementerian Dalam Negeri di Yogyakarta, sekaligus menerima insentif sebesar Rp3 miliar.

Pengangguran Jawa Timur Turun di Bawah Rata-Rata Nasional

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam acara yang berlangsung pada Kamis (4/6) malam.

Khofifah menyebut capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan dunia industri dalam menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Alhamdulillah, untuk penurunan angka pengangguran Jatim mendapatkan apresiasi ini. Ini hasil kerja semua lini dan semua elemen, dunia usaha serta dunia industri,” ungkap Khofifah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, TPT pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen atau turun dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 3,61 persen.

Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang berada di level 4,68 persen.

Dalam lima tahun terakhir, tingkat pengangguran di Jawa Timur terus menunjukkan tren penurunan dari 5,17 persen pada Februari 2021 menjadi 3,55 persen pada Februari 2026.

Lulusan SMK Berkontribusi Tekan Angka Pengangguran

Khofifah menilai penguatan keterhubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja menjadi salah satu faktor penting dalam menekan angka pengangguran di Jawa Timur.

Menurutnya, program link and match antara sekolah vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri semakin efektif dalam menyerap tenaga kerja.

“Penurunan pengangguran lulusan SMK sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa penguatan link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri semakin efektif,” tuturnya.

Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK turun menjadi 5,73 persen pada Februari 2026 dari sebelumnya 5,87 persen pada Februari 2025.

Dengan capaian tersebut, lulusan SMK tidak lagi menjadi kelompok penyumbang pengangguran tertinggi di Jawa Timur.

Khofifah menegaskan pemerintah daerah terus memperluas kesempatan kerja melalui kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan perguruan tinggi.

“Upaya membuka kesempatan kerja terus kami lakukan melalui kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan perguruan tinggi. Bahkan saat ini Jawa Timur telah menjalin kerja sama penempatan tenaga kerja dengan 13 negara tujuan, termasuk membuka peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK,” kata Khofifah.

Penulis :
Ahmad Yusuf