
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan data keterpaparan (exposure) bencana yang terintegrasi dan dinamis guna memperkuat penilaian risiko serta meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana di Indonesia.
BRIN Tekankan Pentingnya Basis Data Terintegrasi
Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN Luki Subehi mengatakan risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh ancaman alam, tetapi juga oleh pemahaman yang akurat mengenai lokasi masyarakat, bangunan, dan infrastruktur yang berpotensi terdampak.
“Untuk merancang tata kelola yang efektif, strategi pengurangan risiko, dan kebijakan yang dapat menyelamatkan jiwa, kita membutuhkan fondasi berupa informasi keterpaparan yang berkualitas tinggi, terstandar, dan dapat digunakan bersama,” ungkapnya.
Menurut Luki, Indonesia masih menghadapi tantangan karena belum memiliki satu basis data keterpaparan nasional yang terintegrasi dan memenuhi standar internasional.
BNPB Soroti Pentingnya Data Akurat untuk Respons Bencana
Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Udrekh menegaskan data keterpaparan yang akurat menjadi kebutuhan penting di tengah tingginya aktivitas kegempaan di kawasan Asia Pasifik, termasuk setelah gempa magnitudo 7,7 di lepas pantai Filipina yang memicu peringatan tsunami di sejumlah wilayah Indonesia timur.
“Kita tidak dapat mengelola apa yang tidak kita ukur,” ujarnya.
Ia menjelaskan BNPB terus berupaya mengubah data ilmiah menjadi kebijakan yang dapat diterapkan di lapangan, dengan menekankan pentingnya interoperabilitas, sinkronisasi, dan kolaborasi jangka panjang antarinstansi agar penilaian risiko lebih presisi hingga tingkat bangunan.
Kolaborasi multisektor dalam integrasi data keterpaparan diharapkan mampu memperkuat platform berbagi data, menekan biaya pengumpulan informasi, serta mempercepat respons pada 72 jam pertama setelah bencana terjadi.
- Penulis :
- Aditya Yohan





