
Pantau - Aliansi mahasiswa yang menamakan diri BEM Bersatu menyatakan menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis sebagai respons terhadap sejumlah aksi mahasiswa yang berlangsung belakangan ini.
BEM Bersatu Soroti Arah dan Substansi Gerakan Mahasiswa
BEM Bersatu menilai beberapa aksi mahasiswa mulai kehilangan arah karena dianggap minim kajian, memiliki argumentasi yang masih lemah, serta belum menyajikan substansi tuntutan yang jelas.
Juru bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, mengatakan, “Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan.”
Menurut Rahmat, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai apakah gerakan mahasiswa masih berpihak kepada rakyat atau telah disusupi agenda tertentu.
BEM Bersatu juga mempertanyakan prioritas isu yang diangkat dalam sejumlah aksi karena menilai perhatian publik justru tersedot pada persoalan yang dianggap bukan menjadi kebutuhan paling mendesak di tengah masyarakat.
Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rahmat menyampaikan, “Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan.”
Singgung Dugaan Keterlibatan Aktor Politik dan Serukan Pengawalan Korupsi
BEM Bersatu menyatakan melihat adanya indikasi keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan mahasiswa dan dalam pernyataannya turut menyinggung mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto.
Rahmat menyampaikan, “Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakan diduga terdaftar atas nama SN, adik Letjen TNI (Purn) SS, yang merupakan besan Jenderal TNI AP, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan AW, di tengah massa aksi.”
Ia juga mengatakan, “Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam dialog nasional kebangsaan yang akan dilaksanakan di Bandung pada 18 Juni 2026 mendatang bersama sejumlah tokoh, seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa. Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) SS juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati.”
BEM Bersatu menolak narasi krisis yang menurut mereka tidak didasarkan pada data yang utuh dan menilai narasi tersebut berpotensi mengalihkan perhatian publik dari agenda penting seperti pemberantasan korupsi.
Rahmat menyatakan, “Kami menyayangkan dugaan pemanfaatan aksi mahasiswa oleh pihak luar sebagaimana telah diklarifikasi sejumlah BEM, termasuk Universitas Negeri Jakarta dan Unindra (Universitas Indraprasta PGRI).”
Aliansi tersebut mendesak agar gerakan mahasiswa disterilkan dari pendanaan, fasilitas, dan segala bentuk intervensi politik praktis serta menyatakan mendukung keberlangsungan Program Makan Bergizi Gratis dengan catatan adanya perbaikan tata kelola.
BEM Bersatu juga menyatakan mendukung pengusutan dugaan kasus korupsi tanpa pandang bulu dan mengajak mahasiswa Indonesia mengawal proses hukum tersebut secara kritis dan objektif.
Rahmat menegaskan, “BEM Bersatu akan terus mengawal kemurnian gerakan mahasiswa agar tetap independen, berpihak kepada rakyat, serta bebas dari intervensi elite politik.”
- Penulis :
- Shila Glorya





