
Pantau - Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan memperkuat kapasitas penanggulangan bencana hingga tingkat desa sebagai upaya menghadapi 14 jenis risiko bencana yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur.
Penguatan Relawan dan Lumbung Sosial Jadi Prioritas
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa keberadaan relawan terlatih menjadi syarat penting bagi sebuah wilayah untuk menyandang status Desa Tangguh Bencana.
"Sebuah desa tidak bisa disebut Desa Tangguh Bencana bila tidak ada relawan terlatih di kecamatan dan desa," ungkapnya.
Menurut Khofifah, penguatan kapasitas relawan di tingkat desa dan kecamatan menjadi aspek penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
Relawan memiliki peran strategis sebagai garda terdepan mitigasi bencana, pelaksana tanggap darurat, serta pendukung proses pemulihan pasca-bencana.
Selain penguatan relawan, Pemprov Jatim juga mendorong pembentukan Lumbung Sosial di Desa Tangguh Bencana.
Lumbung Sosial disiapkan untuk menjamin ketersediaan logistik serta menyediakan peralatan yang dibutuhkan masyarakat saat terjadi bencana di daerah rawan.
Pesantren Tangguh Bencana Mulai Dikembangkan
Dalam pertemuan dengan Program SIAP SIAGA, Pemprov Jatim turut menyoroti pengembangan Pesantren Tangguh Bencana atau PESTANA untuk meningkatkan kesiapsiagaan pondok pesantren terhadap berbagai potensi bencana.
Saat ini terdapat 7.425 pondok pesantren di Jawa Timur dengan lebih dari 486 ribu santri dan sekitar 36 ribu tenaga pengajar yang dinilai perlu mendapatkan penguatan kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
"Pesantren perlu diperkuat juga ketangguhannya dalam menghadapi bencana. Relawan dari pesantren ya dilatih, bagaimana menyiapkan mereka agar menjadi tangguh. Lalu, akan diujicoba di pesantren mana pelatihan itu," kata Khofifah.
Pemprov Jatim berencana melatih relawan dari kalangan pesantren agar mampu menghadapi berbagai kondisi kebencanaan.
Program pelatihan tersebut nantinya akan diuji coba pada sejumlah pondok pesantren yang ditentukan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan bahwa kapasitas pesantren perlu dipetakan dan dipelajari secara menyeluruh.
"Baik santri maupun pengajarnya tinggal menetap dan belajar dalam jangka waktu lama di area pesantren. Mereka berpotensi terdampak bencana," ujarnya.
Gatot menyebut konsep PESTANA dikembangkan menggunakan pendekatan yang serupa dengan Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB.
Saat ini modul kebencanaan masih disusun dan metode pembelajaran masih dalam tahap pengembangan.
SIAP SIAGA Perluas Pelibatan Pemangku Kepentingan
Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA Deswanto Marbun menyampaikan apresiasi atas dukungan dan masukan yang diberikan Pemprov Jawa Timur.
"Ibu Gubernur memberikan berbagai masukan. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa agar respons terhadap bencana lebih efektif dan tepat sasaran," ungkapnya.
Salah satu rekomendasi utama Pemprov Jatim adalah pelibatan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa dalam sistem penanggulangan bencana.
Program SIAP SIAGA merupakan kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia dalam bidang manajemen risiko bencana yang telah berjalan di Jawa Timur sejak 2020.
Fokus utama program tersebut meliputi pencegahan bencana, persiapan menghadapi bencana, respons saat terjadi bencana, serta pemulihan pasca-bencana.
Bersama BPBD Jawa Timur, Program SIAP SIAGA telah melaksanakan simulasi evakuasi mandiri tsunami di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kabupaten Lumajang.
Pada awal Juli 2026, Program SIAP SIAGA akan menggelar simulasi penanganan erupsi gunung api di Kabupaten Malang.
Pelaksana Tugas Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya Will Lee menyatakan kerja sama kebencanaan menjadi salah satu simbol kuat hubungan Indonesia dan Australia.
"Pengalaman itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sangat penting," katanya.
Pernyataan tersebut merujuk pada keterlibatan personel TNI dalam membantu penanganan kebakaran hutan besar di New South Wales, Australia, pada 2019.
Kerja sama penanggulangan bencana antara Indonesia dan Australia dinilai terus berkembang melalui berbagai program peningkatan kapasitas, pelatihan, dan simulasi kebencanaan di daerah rawan bencana.
- Penulis :
- Shila Glorya





