billboard mobile
HOME  ⁄  Nasional

Luas Tanam Tembakau di Temanggung Turun Hampir 5.000 Hektare, Cabai Justru Melonjak Tiga Kali Lipat

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Luas Tanam Tembakau di Temanggung Turun Hampir 5.000 Hektare, Cabai Justru Melonjak Tiga Kali Lipat
Foto: Kepala Bidang Holtikulturan dan Perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung Sumarno memberikan penjelasan tentang alih fungsi lahan tembakau di Temanggung, Rabu 17/6/2026 (sumber: ANTARA/Heru Suyitno)

Pantau - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung mengungkapkan luas tanam tembakau di wilayah tersebut menurun hampir 5.000 hektare dalam periode 2021 hingga 2025, dari sekitar 18.600 hektare menjadi 13.133 hektare.

Sumarno selaku Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DKPPP Kabupaten Temanggung menyampaikan data tersebut dalam kegiatan "Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau" yang diselenggarakan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCCC).

Ia menegaskan penurunan luas tanam tembakau tidak terjadi akibat kebijakan yang memaksa petani meninggalkan komoditas tersebut.

Menurutnya, sebagian lahan beralih ke sektor hortikultura karena dinilai memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani.

Ia mengungkapkan, "Kami di bidang pertanian harus hati-hati. Pendekatannya memang berbeda karena di Temanggung budaya petani itu adalah tembakau."

Ia menambahkan bahwa pendekatan alih fungsi lahan harus dilakukan secara hati-hati karena tembakau telah menjadi bagian dari budaya pertanian masyarakat Temanggung.

Peralihan Lahan ke Cabai Meningkat Signifikan

Sumarno menjelaskan salah satu komoditas yang mengalami peningkatan signifikan adalah cabai.

Pada tahun 2021, luas tanam cabai di Kabupaten Temanggung tercatat sekitar 4.000 hektare.

Pada tahun 2025, luas tanam cabai meningkat menjadi sekitar 12.000 hektare.

Dengan demikian, terjadi kenaikan luas tanam cabai sekitar 8.000 hektare dalam kurun empat tahun.

Menurut Sumarno, tingginya harga cabai menjadi salah satu faktor utama yang mendorong petani beralih ke komoditas tersebut.

Ia mengatakan, "Harga cabai kemarin relatif tinggi dan mampu bertahan cukup lama. Jadi tanpa disuruh pun petani mulai beralih ke komoditas yang dianggap lebih menguntungkan."

Tembakau Tetap Dipertahankan Melalui Pola Tumpangsari

Meski luas tanam tembakau berkurang, petani di Temanggung masih mempertahankan komoditas tersebut melalui pola tanam tumpangsari.

Pada bulan November, petani umumnya menanam bawang putih, bawang merah, cabai, dan berbagai komoditas hortikultura lainnya.

Memasuki periode Maret hingga Mei, lahan kembali ditanami tembakau.

Di sejumlah kawasan, petani juga menerapkan pola tanam yang lebih beragam dengan mengombinasikan tembakau, cabai, kacang merah, serta berbagai jenis sayuran.

Pola tanam tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani.

MTCC Dorong Diversifikasi untuk Perkuat Ketahanan Petani

Ketua MTCC Universitas Muhammadiyah Magelang Retno Rusdjijati menegaskan kesejahteraan petani tembakau dan perlindungan kesehatan masyarakat tidak perlu dipertentangkan.

Ia mengungkapkan, "Petani perlu menjadi bagian dari solusi pembangunan yang berkelanjutan. Penguatan kesehatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila didukung oleh kebijakan yang tepat, berbasis bukti, dan dilaksanakan secara kolaboratif."

Retno menyebut petani tembakau masih menghadapi berbagai tantangan seperti ketidakpastian harga hasil panen, meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, keterbatasan akses pasar, serta ketergantungan pada satu komoditas yang rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan lingkungan.

Menurutnya, penguatan ketahanan ekonomi keluarga petani perlu dilakukan melalui diversifikasi usaha tani, pengembangan komoditas alternatif, serta penyesuaian komoditas sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Diversifikasi usaha dan pengembangan komoditas alternatif dinilai dapat membantu petani menghadapi risiko ekonomi dan perubahan lingkungan secara lebih berkelanjutan.

Penulis :
Leon Weldrick
Kemenkeu 2026