
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA, mendukung kesepakatan damai AS-Iran antara Amerika Serikat dan Iran atas prakarsa Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi, serta mengingatkan agar perjanjian perdamaian yang secara terbuka ditandatangani oleh Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dengan disaksikan oleh publik di seluruh dunia tersebut dapat benar-benar dilaksanakan oleh semua pihak sesuai tahapan yang disepakati.
Selain itu, ia juga menekankan agar para pihak mewaspadai manuver-manuver Israel yang berusaha menggagalkannya dengan terus melakukan aksi militer di Lebanon, agar dunia terhindar dari krisis, ancaman perang dunia ketiga, dan agar dapat memulihkan perekonomian dunia akibat penutupan Selat Hormuz, serta agar semua pihak kembali fokus merealisasikan perjanjian perdamaian terkait Gaza/Palestina yang terus dilanggar oleh Israel, agar hadirlah perdamaian yang menyeluruh dengan merdekanya Palestina.
Apresiasi Prakarsa Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi atas Kesepakatan Damai AS-Iran
"Kita tentu berterima kasih dan mengapresiasi tinggi prakarsa Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi yang efektif bergerak sehingga naskah perdamaian bisa disetujui dan ditandatangani, walau terus berusaha 'dirusak' oleh Israel dengan manuvernya yang masih tak henti menyerang Lebanon. Sikap Amerika Serikat juga sangat baik bila tidak hanya mengkritisi laku Israel tersebut, tapi benar-benar menghentikannya untuk tercapainya perdamaian dan terhindarkannya dunia, termasuk AS, dari krisis politik dan ekonomi," ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (19/6).
HNW, sapaan akrabnya, berharap agar semua pihak aktif mengingatkan AS dan pihak lainnya untuk konsisten dalam menjalankan perjanjian perdamaian ini.
"Jangan malah seperti Israel yang masih terus melanggar gencatan senjata dengan terus melakukan tindakan militer dan melarang masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, padahal mereka sudah menyetujui perdamaian, agar perdamaian dan stabilitas kawasan yang diinginkan oleh AS dan masyarakat dunia bisa benar-benar terwujud," ujarnya.
Lebih lanjut, HNW berharap agar perjanjian perdamaian AS-Iran ini bisa benar-benar mengakhiri perang dengan menghadirkan perdamaian sejati dan segera memulihkan perekonomian dunia, termasuk di Indonesia, akibat penutupan Selat Hormuz selama perang terjadi.
"Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, penting juga bisa segera menurunkan harga minyak dunia yang sangat membebani banyak negara, termasuk Indonesia," ujarnya.
Kesepakatan Damai AS-Iran Harus Diikuti Fokus Akhiri Tragedi Gaza dan Kemerdekaan Palestina
HNW menegaskan bahwa meski perjanjian perdamaian ini hanya menyebut Lebanon sebagai titik sentral di luar AS-Iran yang juga berlaku perdamaian dan karenanya tidak boleh diserang, tetapi untuk menghadirkan stabilitas dan keamanan kawasan, upaya menghentikan perang Israel atas Gaza dan Palestina harus dipentingkan, dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang sudah diakui oleh lebih dari 153 negara anggota PBB harus kembali difokuskan.
"Memang Gaza/Palestina tidak disebut dalam perjanjian tersebut, tetapi penting diingatkan, dengan berhentinya perang AS versus Iran itu maka perjanjian damai yang menghentikan tragedi di Gaza/Palestina penting segera bisa diwujudkan juga, karena selama terjadinya perang AS dan Iran, Israel malah memanfaatkan kondisi beralihnya perhatian dunia itu untuk tidak melaksanakan kesepakatan gencatan senjata," ujarnya.
"Israel justru malah semakin brutal melakukan kejahatan atas Gaza dan memperluas kejahatannya di Tepi Barat dan Masjid Al-Aqsa. Ini harus kembali menjadi titik sentral perhatian dunia, agar terciptalah stabilitas kawasan dan hadirlah perdamaian dengan kemerdekaan Palestina," ujarnya.
Oleh karena itu, HNW berharap dengan berakhirnya konflik antara AS-Iran ini, dunia bisa fokus untuk kembali menghentikan kejahatan Israel, memperjuangkan kondisi Gaza menjadi baik, hingga terwujudnya kemerdekaan Palestina.
"Pemerintah Indonesia juga bisa terus memainkan peran penting politik luar negerinya untuk terciptanya perdamaian dunia dan merdekanya Palestina, di samping tetap fokus mengatasi masalah-masalah domestik di Indonesia," ujarnya.
Netanyahu Dinilai Bahayakan Ekonomi dan Keamanan Dunia, HNW Desak AS Tak Gunakan Hak Veto
Apalagi, lanjut HNW, dengan adanya perjanjian perdamaian yang ditandatangani Presiden AS dan Iran ini, dan respons Israel yang tidak sejalan dengan nota perjanjian penghentian perang dengan masih saja menyerang Lebanon, semakin membuktikan kepada Presiden Donald Trump dan para pemimpin negara-negara barat yang selama ini membabi buta mendukung Israel bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan rezimnya justru membahayakan ekonomi dan keamanan dunia, serta merugikan kepentingan AS baik di tingkat domestik maupun internasional.
"Maka bila Israel tetap saja bersikap yang tidak sesuai dengan perjanjian perdamaian dengan terus melancarkan serangan militer, baik terkait Lebanon maupun Gaza/Palestina, agar khususnya AS tak lagi mempergunakan hak vetonya membela Israel, agar hukum internasional yang terus ditabrak oleh Israel dapat ditegakkan, agar perdamaian mendasar dapat diwujudkan dengan dihentikannya tragedi kemanusiaan di Gaza/Palestina, bahkan dengan diakuinya kemerdekaan Palestina," pungkasnya.
- Penulis :
- Arian Mesa








