HOME  ⁄  Nasional

Kelahiran Bayi Bekantan Kembar di Pulau Curiak Jadi Peristiwa Langka dan Bersejarah

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kelahiran Bayi Bekantan Kembar di Pulau Curiak Jadi Peristiwa Langka dan Bersejarah
Foto: (Sumber : Bayi kembar bekantan bersama induknya di Pulau Curiak)

Pantau - Dunia konservasi satwa liar menyambut antusias kelahiran bayi bekantan kembar di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, yang dinilai sebagai fenomena sangat langka karena bekantan umumnya hanya melahirkan satu anak dalam satu masa kelahiran.

Kelahiran bayi kembar tersebut terjadi di Stasiun Riset Bekantan Camp Tim Roberts yang berada di Pulau Curiak dan dikelola oleh Amalia Rezeki bersama Sahabat Bekantan Indonesia.

Dua bayi bekantan yang lahir pada pertengahan Juni 2026 itu berasal dari seekor betina kelompok Alpha.

Bayi bekantan yang baru lahir memiliki ciri tubuh mungil dengan bulu hitam pekat dan wajah berwarna biru tua.

Seiring pertumbuhan, warna bulu mereka akan berubah menjadi kuning kecokelatan dan hidungnya akan memanjang seperti bekantan dewasa.

Fenomena Langka Ditemukan Saat Pemantauan Rutin

Amalia Rezeki menjelaskan bahwa kelahiran kembar pada primata merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi, terutama pada spesies bekantan yang hidup di alam liar.

Kemunculan dua bayi tersebut pertama kali diketahui saat tim peneliti melakukan pemantauan rutin di kawasan Camp Tim Roberts.

Tim menemukan dua bayi bekantan yang sedang menyusu di pelukan induknya.

Amalia mengaku terharu saat menyaksikan peristiwa langka tersebut.

Ia mengatakan, "Kami sangat bersyukur dan sempat meneteskan air mata terharu karena lebih dari sepuluh tahun saya mendedikasikan diri bagi upaya pelestarian bekantan di kawasan Pulau Curiak, baru kali ini menemukan kelahiran bayi bekantan kembar."

Sepanjang pertengahan tahun 2026, telah lahir tiga bayi bekantan di kawasan Camp Tim Roberts yang merupakan bagian dari Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak.

Kawasan tersebut menjadi habitat bekantan yang berada di luar kawasan konservasi resmi.

Beri Harapan Baru bagi Pelestarian Bekantan

Bekantan jantan mulai memasuki masa reproduksi pada usia sekitar empat hingga lima tahun.

Sementara itu, bekantan betina mulai memasuki masa reproduksi pada usia sekitar empat tahun.

Masa kehamilan bekantan berlangsung sekitar lima hingga enam bulan.

Dalam kondisi normal, seekor bekantan hanya melahirkan satu bayi dalam satu musim reproduksi.

Bayi bekantan dirawat secara berkelompok oleh koloninya.

Pola pengasuhan juga melibatkan betina muda yang berperan sebagai pengasuh tambahan atau baby sister.

Kelahiran bayi bekantan kembar ini menarik perhatian akademisi, peneliti, dan pegiat konservasi dari berbagai negara.

Bekantan atau Nasalis larvatus merupakan satwa yang masuk dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature dengan status terancam punah atau Endangered Species.

Status tersebut menjadikan setiap perkembangan populasi bekantan sebagai perhatian penting bagi komunitas konservasi dunia.

Kelahiran bayi bekantan kembar di Pulau Curiak dinilai sebagai peristiwa bersejarah yang memberikan harapan baru bagi upaya pelestarian bekantan di Indonesia.

Penulis :
Gerry Eka