
Pantau - Pemerintah menggelar forum tingkat tinggi untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian ekosistem obat-obatan, vaksin, serta diagnostik di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi pandemi di masa depan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia membutuhkan ekosistem kesehatan yang kuat mengingat jumlah penduduk yang mencapai sekitar 280 juta jiwa.
Menurut Budi, penguatan ketahanan kesehatan tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga perlu dibagikan kepada negara-negara tetangga yang memiliki populasi besar seperti Malaysia dan Thailand.
“Jadi teknologi ini nggak harus dimonopoli, terutama di bidang kesehatan, justru harus dibagi. Karena mereka berhak untuk hidup dan kalau pandemi terjadi, pasti masing-masing negara ingin menyelamatkan orang-orangnya dulu dibandingkan dengan yang lain,” ungkapnya usai Forum Tingkat Tinggi Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Budi menjelaskan negara-negara besar di kawasan nantinya dapat membantu negara yang lebih kecil melalui sistem ketahanan kesehatan yang mandiri.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Kesehatan mendorong hilirisasi industri kesehatan agar kebutuhan obat dan alat kesehatan dapat diproduksi di dalam negeri.
“Nah, saya tadi membujuk DEN, ini dari sisi belanja kesehatan, historically kita tuh udah di atas 10 persen biasanya setiap tahun. Malah tahun lalu tuh 16 persen. Memang semua belanja ini belum tertranslasikan jadi pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan, karena sebagian besar masih impor,” katanya.
Budi menilai tingginya impor membuat manfaat ekonomi dari belanja kesehatan lebih banyak dinikmati negara lain.
Ia mencontohkan produksi parasetamol yang masih bergantung pada impor meskipun bahan bakunya berasal dari sumber daya yang tersedia di Indonesia.
Selain itu, Indonesia juga masih mengimpor berbagai produk turunan darah seperti plasma, albumin, immunoglobulin, Factor VIII, dan Factor IX meskipun memiliki potensi pasokan darah yang besar.
Budi mengungkapkan pembangunan pabrik plasma pertama di Indonesia telah selesai dan saat ini tinggal menunggu perizinan operasional.
“Nah itu Pak Luhut juga yang bantu dibikin pabrik plasma pertama kali itu dan sudah jadi. Tinggal nunggu izinnya, mudah-mudahan 2027 bisa produksi 600 ribu liter per hari, kita nggak usah impor lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan keberhasilan hilirisasi sektor kesehatan dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan penguatan sektor kesehatan akan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan





