HOME  ⁄  Nasional

Kemenpar Perkuat Produk Halal di Destinasi Wisata untuk Kejar Posisi Teratas GMTI 2026

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kemenpar Perkuat Produk Halal di Destinasi Wisata untuk Kejar Posisi Teratas GMTI 2026
Foto: Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenpar Vinsensius Jemandu saat ditemui ANTARA di Jakarta, Jumat 26/6/2026 (sumber: ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Pantau - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat kehadiran produk-produk halal di berbagai destinasi wisata sebagai upaya meningkatkan kualitas wisata ramah Muslim sekaligus menargetkan Indonesia menjadi destinasi ramah Muslim terbaik di dunia berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI).

Kemenpar telah berdiskusi dengan pelaku usaha di desa wisata untuk memastikan ketersediaan produk halal, termasuk mendorong kepemilikan sertifikasi halal bagi produk yang ditawarkan kepada wisatawan.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenpar Vinsensius Jemandu mengungkapkan, "Kami sudah berbicara baik dengan (pelaku usaha) di desa wisata supaya betul-betul menyiapkan produk-produk yang halal ya seperti sertifikasi halal)."

Penguatan Produk Halal di Destinasi Wisata

Pemerintah mengembangkan wisata ramah Muslim dengan menghadirkan produk-produk halal yang berkaitan dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Berdasarkan portofolio pariwisata, sekitar 60 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mencari pengalaman berbasis budaya.

Sekitar 30 persen wisatawan mancanegara mencari pengalaman wisata berbasis alam.

Sementara itu, sisanya tertarik pada produk wisata buatan manusia (man-made).

Vinsensius menyebut Indonesia memiliki kekuatan dalam menghadirkan wisata Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) yang berkualitas dan ramah Muslim.

Pengalaman wisata yang dikembangkan mencakup wisata bahari, diving, surfing, dan berbagai aktivitas wisata lainnya.

Pemerintah juga terus memantau ketersediaan produk halal pada sarana dan prasarana yang digunakan di destinasi wisata.

Penguatan produk halal diperluas, terutama di 13 destinasi yang sedang dikembangkan sebagai destinasi ramah Muslim, di antaranya Sumatera Barat, Jakarta, Bandung, dan Banten.

Vinsensius mengatakan, "Kemudian juga ada sarana dan prasarana di destinasi. Yang boleh kita sebut kalau dalam kepariwisataan itu sebut extended service."

Kolaborasi dengan BPJPH dan Target GMTI

Untuk produk makanan, minuman, hingga barang yang tersedia di sektor akomodasi dan jasa, Kemenpar terus berkoordinasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) guna mendukung proses sertifikasi halal.

Vinsensius mengungkapkan, "Kita sedang bicarakan oleh Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan BPJPH dan baru-baru ini kita ada 1.500 kalau enggak salah di Sumatera Utara yang sudah kerja sama dengan kita untuk desa wisata maupun juga sumber daya manusia."

Kemenpar menargetkan Indonesia meraih posisi pertama dalam GMTI sebagai destinasi ramah Muslim terbaik di dunia.

Pada 2026, Indonesia menempati peringkat kedua GMTI bersama Turki setelah naik tiga peringkat dibandingkan posisi kelima pada 2025.

Indonesia berada tepat di bawah Malaysia serta sejajar dengan Arab Saudi dan Turki dalam pemeringkatan tersebut.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan Kementerian Pariwisata terus memperkuat ekosistem pariwisata ramah Muslim melalui kolaborasi dengan BPJPH.

Salah satu implementasi kolaborasi tersebut dilakukan di Desa Wisata Jatimulyo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hingga 29 Mei 2026, kolaborasi Kemenpar dan BPJPH telah menghasilkan 31.548 sertifikat halal bagi pelaku usaha di 1.116 desa wisata yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, “Program ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem pariwisata ramah Muslim sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi UMKM lokal untuk masuk ke dalam rantai nilai pariwisata.”

Penulis :
Leon Weldrick