
Pantau - Pemerintah menggelar Gebyar Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai upaya memperkuat edukasi serta membangun budaya keamanan pangan sejak dini di lingkungan sekolah.
Edukasi Keamanan Pangan Dimulai dari Sekolah
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan program tersebut digelar dalam rangka memperingati World Food Safety Day (WFSD) 2026 sebagai respons terhadap tingginya kasus penyakit akibat pangan yang tidak aman.
Ia mengungkapkan, "Bahwa pembudayaan keamanan pangan di sekolah sejak dini sebagai solusi permasalahan keamanan. Jadi kita perlu memberikan solusi. Salah satu solusinya adalah memberikan pendidikan, memberikan solusi bagaimana anak-anak kita bisa memastikan bahwa budaya makan yang sehat dan bergizi itu wajib hukumnya dan diajarkan sejak awal."
Taruna menjelaskan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan satu dari 10 orang mengalami sakit akibat makanan yang tidak aman.
Ia mengatakan, "Dan kalau kita hitung di Indonesia jumlah kita 287 juta, berarti 28,7 juta penduduk kita mengalami hal yang demikian. Besar sekali dan juga datanya bahwa ada 420 ribu orang meninggal setiap tahunnya karena masalah pangan tadi."
Menurut BPOM, isu keracunan dan kematian akibat pangan tidak sehat menimbulkan kerugian ekonomi antara Rp64,8 triliun hingga Rp226 triliun setiap tahun.
Libatkan Bahasa Daerah untuk Tingkatkan Kesadaran Masyarakat
Taruna menyebut sekitar 19,8 persen anak Indonesia mengalami stunting, sekitar 40 persen mengalami defisiensi mikronutrien, dan sekitar 20 persen mengalami kelebihan berat badan.
Ia mengatakan, "Jadi 80 persen bermasalah. Tentu betapa pentingnya kesadaran pangan aman ini."
BPOM menggandeng Kemendikdasmen dan Kementerian Kebudayaan untuk memperluas edukasi mengenai pangan aman dan sehat di sekolah-sekolah serta masyarakat.
Pemerintah juga menjalankan inisiatif Gerakan 1.000 Kader untuk Pangan Aman dengan Bahasa Daerah guna mengatasi kendala komunikasi dalam penyuluhan keamanan pangan.
Taruna mengungkapkan, "Kita ingin betul-betul memproteksi, mencegah terjadinya hal-hal yang berbahaya bagi masyarakat kita khususnya anak-anak kita."
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





