
Pantau - Guru Besar ke-245 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Diah Susanti mengembangkan inovasi material maju untuk teknologi penyimpanan energi dan pengendalian pencemaran lingkungan guna mendukung transisi energi serta keberlanjutan lingkungan.
Inovasi Ubah Emisi Karbon dan Limbah Menjadi Bernilai
Prof Diah menyampaikan teknologi fotokatalis berbahan semikonduktor berbasis komposit reduced Graphene Oxide dan tembaga oksida (rGO/CuO) mampu mengubah gas buang CO2 menjadi bahan bakar alternatif seperti metanol dan metana.
"Dengan teknologi fotokatalis berbahan semikonduktor layaknya komposit reduced Graphene Oxide dan tembaga oksida (rGO/CuO), gas buang CO2 dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif seperti metanol dan metana," ungkapnya.
Selain mengonversi emisi karbon, teknologi tersebut juga dimanfaatkan untuk menguraikan limbah pewarna industri beracun seperti Rhodamine-B (RhB) dan Methylene Blue (MB).
Menurut Diah, material komposit berbasis reduced Graphene Oxide dan seng oksida (rGO/ZnO) yang dikembangkan Laboratorium Kimia Material DTMM ITS mampu mendegradasi polutan cair RhB hingga 99,5 persen dalam waktu lima jam.
"Senyawa rakitan Laboratorium Kimia Material DTMM ITS ini sukses mendegradasi polutan cair RhB hingga 99,5 persen hanya dalam kurun waktu lima jam," ujarnya.
Superkapasitor Dikembangkan untuk Kendaraan Listrik
Pada bidang penyimpanan energi, Prof Diah mengembangkan superkapasitor elektrokimia yang menggabungkan keunggulan kapasitor konvensional dan baterai dengan kemampuan menghasilkan densitas daya tinggi.
"Kapasitansinya bahkan sanggup mencapai 10 ribu kali lipat lebih besar dibanding kapasitor konvensional biasa," katanya.
Penelitian tersebut mengembangkan tiga jenis superkapasitor menggunakan material rGO yang dipadukan dengan berbagai oksida logam, seperti WO3, NiO, CuCr2O4, dan senyawa mangan oksida.
Prof Diah juga memanfaatkan limbah biomassa lokal seperti eceng gondok, tempurung kelapa, dan kluwak sebagai bahan baku pembuatan rGO berpori aktif untuk mendukung sistem penyimpanan energi yang ramah lingkungan.
Teknologi tersebut dirancang dapat diintegrasikan dengan baterai maupun fuel cell pada kendaraan listrik guna mempercepat proses pengisian dan pelepasan daya serta menjaga stabilitas pasokan listrik.
Prof Diah berharap inovasi nanoteknologi yang dikembangkannya dapat diterapkan pada skala industri melalui kolaborasi dengan berbagai mitra global untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
"Selagi ada kesempatan, kaum perempuan juga harus terus berdaya dan berupaya memberikan kontribusi riset terbaiknya bagi kelestarian alam," katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





