
Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan kehadiran produk dengan zat aktif tirzepatide oleh PT Anugerah Pharmindo Lestari diharapkan dapat memperluas pilihan pengobatan bagi pasien, khususnya untuk pengelolaan diabetes melitus tipe 2 dan manajemen berat badan.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan diabetes melitus tipe 2 dan obesitas merupakan tantangan kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat serta berdampak luas terhadap kualitas hidup masyarakat.
"BPOM akan terus berkomitmen untuk terus melakukan berbagai terobosan sebagai upaya meningkatkan ketersediaan obat-obatan baru yang inovatif di Indonesia," ungkap Taruna.
Taruna menjelaskan diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang tinggi.
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025, sekitar 11,1 persen populasi dewasa dunia hidup dengan diabetes, sementara empat dari sepuluh penyandang diabetes tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut.
Di sisi lain, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Menurut Taruna, peningkatan obesitas berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit kronis, bertambahnya beban sistem kesehatan, serta menurunnya produktivitas nasional.
"Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan penyakit metabolik, yang meliputi pencegahan, deteksi dini, perubahan gaya hidup, serta ketersediaan terapi yang efektif dan berbasis bukti ilmiah," ujarnya.
Tirzepatide Bekerja Meniru Hormon Alami Tubuh
Taruna menjelaskan tirzepatide merupakan zat aktif yang bekerja dengan mekanisme serupa hormon alami tubuh, yakni glucose-dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dan glucagon-like peptide-1 (GLP-1).
Kedua hormon tersebut diproduksi di usus dan berikatan dengan reseptor spesifik di sejumlah organ, termasuk pankreas dan otak.
Tirzepatide bekerja dengan meningkatkan sekresi insulin, menekan hormon glukagon, meningkatkan sensitivitas insulin, serta membantu mengatur kadar gula darah.
Selain itu, tirzepatide juga memperlambat pengosongan lambung sehingga dimanfaatkan dalam manajemen berat badan.
"Kehadiran tirzepatide sebagai terapi inovatif diharapkan dapat memperluas pilihan pengobatan bagi pasien, khususnya dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 dan berat badan," kata Taruna.
BPOM Tegaskan Pengawasan Tetap Berjalan
Taruna mengatakan inovasi terapi tirzepatide menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Selain tirzepatide, BPOM sebelumnya juga telah menerbitkan izin edar untuk obat sejenis dengan indikasi serupa, yakni semaglutide dan liraglutide.
BPOM menegaskan seluruh obat yang beredar di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat sesuai standar internasional untuk menjamin keamanan, khasiat, dan mutu produk.
"Setelah memperoleh izin edar, keamanan obat terus dipantau melalui farmakovigilans sebagai bagian dari pengawasan pascapemasaran," ungkap Taruna.
Taruna menambahkan kolaborasi antara regulator, industri farmasi, dan tenaga kesehatan diperlukan untuk mempercepat akses masyarakat terhadap obat-obatan inovatif agar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
- Penulis :
- Gerry Eka





