
Pantau - Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) melepas 41 pekerja migran Indonesia (PMI) terampil sektor pengelasan (welder) ke Korea Selatan serta mendorong perluasan penempatan PMI melalui jalur resmi agar semakin banyak tenaga kerja memperoleh pekerjaan yang legal dan terlindungi.
Kolaborasi Perkuat Penempatan PMI Legal
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM Abdul Haris mengatakan keberhasilan penempatan 41 PMI tersebut diharapkan menjadi contoh kolaborasi yang dapat diperluas ke berbagai daerah.
"Kolaborasi seperti ini harus terus diperkuat agar semakin banyak tenaga kerja Indonesia yang memperoleh pekerjaan layak di luar negeri melalui jalur resmi. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi pengangguran, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memastikan setiap pekerja migran mendapatkan perlindungan yang optimal," ungkap Abdul Haris.
Pelepasan dilakukan di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, terhadap 41 PMI yang akan bekerja di HD Hyundai Samho Co., Ltd., Korea Selatan.
Para pekerja telah mengikuti pelatihan melalui kerja sama Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, LPKS Shankara, dan PT Della Fadhil Anugrah sebagai Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).
Abdul Haris menyebut kolaborasi antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan dunia usaha mampu menghasilkan tenaga kerja yang kompeten serta siap bersaing di pasar kerja internasional.
"Penempatan pekerja migran bukan hanya soal mengirim tenaga kerja ke luar negeri, tetapi memastikan mereka berangkat melalui prosedur yang benar, memiliki keterampilan yang dibutuhkan, dan mendapatkan perlindungan sejak proses pelatihan hingga bekerja di negara tujuan," ujarnya.
Program SMK Go Global Diperkuat
Abdul Haris menjelaskan Indonesia masih menghadapi tantangan tingginya pengangguran, terutama lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK mencapai 7,74 persen, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Di sisi lain, hingga April 2026 Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia mencatat tersedia lebih dari 260 ribu lowongan kerja di berbagai negara, namun baru sekitar 20 persen yang berhasil diisi oleh pekerja Indonesia.
Pemerintah terus mendorong Program SMK Go Global untuk menghubungkan lulusan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja internasional, khususnya di sektor pengelasan dan perawatan lansia yang permintaannya terus meningkat di negara-negara maju.
Program SMK Go Global menargetkan penempatan 500.000 tenaga kerja Indonesia ke luar negeri yang terdiri atas 300.000 lulusan SMK dan 200.000 peserta umum.
Pada 2026, pemerintah menargetkan penempatan 40.000 PMI terampil setelah sebelumnya berhasil melakukan uji coba penempatan 200 pekerja ke Jepang pada akhir 2025.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





