
Pantau - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menjadikan profesi humas sebagai clearing house of information atau pusat penegasan informasi di tengah meningkatnya ancaman disinformasi dan misinformasi pada era komunikasi digital.
Humas Dinilai Berperan Strategis Bangun Kepercayaan Publik
Nezar menyampaikan hal tersebut saat membuka Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan derasnya arus informasi melalui platform digital membuat masyarakat semakin rentan terhadap informasi yang menyesatkan sehingga humas memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan publik.
Nezar mengungkapkan, "Di sini lah saya kira peran bagi Perhumas untuk bisa mengambil posisi yang lebih strategis, bagaimana menciptakan clearing house of information dengan kerja-kerja kehumasan yang lebih adaptif menghadapi teknologi yang berkembang cukup pesat belakangan ini."
Menurutnya, dunia kini telah memasuki era post-truth, yakni kondisi ketika fakta objektif semakin kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan sentimen.
Ia mengatakan, "Kita masuk di era post-truth dan saya kira diskusi soal ini sudah cukup banyak, dan peran Humas menjadi sangat penting ketika noise yang begitu besar dalam lanskap komunikasi kita pada hari ini, dan juga disinformasi, misinformasi, fitnah, ujaran kebencian itu begitu deras, hadir lewat gawai yang kita punya," ungkapnya.
AI Harus Dimanfaatkan dengan Tata Kelola Beretika
Nezar juga mengutip hasil kajian World Economic Forum yang menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu risiko global utama.
Ia mengungkapkan, "Salah satu yang sangat berbahaya menurut World Economic Forum, disinformasi dan misinformasi itu menjadi global top risk yang disimpulkan oleh World Economic Forum."
Selain itu, Nezar menjelaskan perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara kerja profesi humas.
Mengacu pada studi One Asia Communication 2025, praktisi humas di Asia, termasuk Indonesia, semakin memanfaatkan AI untuk memantau sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi pesan, serta meningkatkan kualitas penyampaian narasi.
Meski demikian, ia menegaskan pemanfaatan AI harus tetap berada dalam tata kelola yang baik dengan mengedepankan etika karena teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan unsur ketulusan dalam komunikasi antarmanusia.
- Penulis :
- Aditya Yohan





