
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan aktivitas militer Israel di Tepi Barat telah menyebabkan semakin banyak warga Palestina mengungsi, disertai pembatasan yang kian ketat terhadap akses tempat tinggal, mata pencaharian, dan layanan esensial.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) melaporkan operasi militer Israel, perluasan pembatasan pergerakan, penghancuran bangunan, perluasan permukiman, serta aksi kekerasan oleh para pemukim terus berlangsung.
Ribuan Warga Palestina Mengungsi
OCHA mengungkapkan, "Akibatnya, semakin banyak warga Palestina yang terpaksa mengungsi, risiko terhadap perlindungan mereka meningkat, dan akses terhadap tempat tinggal, mata pencaharian, serta layanan esensial menjadi semakin terbatas."
Sejak awal Juli, sebanyak 67 warga Palestina dilaporkan mengungsi akibat penghancuran 24 bangunan, termasuk dua bangunan yang didanai para donatur untuk membantu masyarakat.
Menurut OCHA, bangunan-bangunan tersebut dihancurkan oleh otoritas Israel dengan alasan tidak memiliki izin mendirikan bangunan yang hampir mustahil diperoleh oleh warga Palestina.
Sejak awal 2026, serangan para pemukim Israel dan penghancuran bangunan telah menyebabkan lebih dari 3.200 warga Palestina mengungsi atau rata-rata 17 orang setiap hari, dua kali lipat dibandingkan rata-rata harian dalam tiga tahun sebelumnya.
Bantuan Kemanusiaan Terus Disalurkan
OCHA menyatakan para mitra kemanusiaan terus menyalurkan bantuan bagi warga terdampak di Tepi Barat dan Gaza.
Pada paruh pertama 2026, lebih dari 5.300 anak dan 1.670 pengasuh di Kegubernuran Yerusalem menerima dukungan psikososial, bantuan darurat, dan layanan perlindungan anak.
Di seluruh Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sekitar 60.000 anak memperoleh dukungan melalui program pembelajaran susulan dan rehabilitasi darurat di 32 sekolah.
OCHA juga melaporkan World Central Kitchen (WCK) menyatakan seorang pengemudi mitra logistiknya tewas akibat serangan pasukan Israel saat mengangkut bantuan dari perlintasan Kerem Shalom menuju gudang organisasi tersebut di Gaza dan menyerukan pertanggungjawaban penuh atas insiden itu.
OCHA menambahkan penyakit menular masih menyebar di Gaza dengan lebih dari 243.000 layanan konsultasi medis diberikan pekan lalu, sementara lebih dari 18.000 kasus baru cacar air, infestasi ektoparasit, dan impetigo tercatat di tengah keterbatasan bahan bakar, suku cadang, serta perlengkapan medis.
- Penulis :
- Aditya Yohan





