
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan Jakarta menjadi kawasan yang paling terdampak akibat kenaikan permukaan air laut yang diperparah oleh penurunan permukaan tanah atau land subsidence, sehingga pemerintah menyiapkan langkah jangka pendek dan jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir dan melindungi masyarakat.
AHY mengungkapkan, "Jakarta merupakan kawasan yang paling terdampak akibat naiknya permukaan air laut sekaligus penurunan permukaan tanah akibat land subsidence yang disebabkan oleh ekstraksi air tanah yang berlebihan dan beban pembangunan kota yang juga tidak semakin ringan."
Penurunan permukaan tanah di Jakarta dipicu oleh ekstraksi air tanah yang berlebihan serta meningkatnya beban pembangunan kota.
Perbaikan Tata Ruang dan Aliran Air Jadi Prioritas
AHY mengatakan salah satu langkah untuk mengatasi tantangan tersebut adalah memperbaiki aliran air dari kawasan hulu menuju hilir.
Pemerintah menilai tata ruang harus dikawal secara serius agar tidak terjadi penyalahgunaan.
Pengelolaan tata ruang yang baik diharapkan dapat menjaga kualitas air tetap bersih sekaligus mempertahankan kapasitas sumber daya air.
Air yang kualitas dan kapasitasnya terjaga dinilai dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun industri.
AHY menilai perbaikan aliran air dari hulu ke hilir dapat secara signifikan mengurangi potensi banjir di wilayah hilir sekaligus mengurangi tekanan akibat kenaikan permukaan air laut.
AHY mengungkapkan, "(Ancaman banjir rob) bisa mengakibatkan kerusakan bukan hanya masyarakat yang tinggal di pantai utara tapi juga industri dan kawasan yang harusnya tumbuh menjadi ekonomi yang baik."
Pemerintah Siapkan Giant Sea Wall dan Rehabilitasi Mangrove
Pemerintah berencana membangun giant sea wall atau tanggul laut ultra raksasa di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa sebagai langkah jangka panjang.
Panjang tanggul laut tersebut diperkirakan mencapai sekitar 500 hingga 700 kilometer.
Nilai investasi pembangunan tanggul diperkirakan mencapai 80 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.298 triliun.
Pembangunan tanggul laut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun.
Untuk jangka pendek, pemerintah mengedepankan pendekatan yang lebih alami melalui rehabilitasi mangrove sebagai benteng alami.
Rehabilitasi mangrove menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
AHY mengungkapkan, “Pada akhirnya, yang paling dulu harus selamatkan adalah manusianya, dampaknya lebih panjang. Kalau tanggul jebol, kita bangun lagi memperbaiki tanggul, tapi apakah membangun tanggul, memperbaiki tanggul itu langsung bisa mengamankan masyarakat kita, dan memberikan mereka kesempatan untuk berusaha lebih baik? Nah, ini adalah sesuatu yang harus kita hitung secara cermat.”
- Penulis :
- Arian Mesa





