HOME  ⁄  Nasional

Kementerian ESDM Proyeksikan Harga Minyak Mentah Indonesia Juli 2026 di Kisaran 67–71 Dolar AS per Barel

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kementerian ESDM Proyeksikan Harga Minyak Mentah Indonesia Juli 2026 di Kisaran 67–71 Dolar AS per Barel
Foto: (Sumber :Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman. ANTARA/Putu Indah Savitri..)

Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Juli 2026 berada di kisaran 67–71 dolar AS per barel dengan mempertimbangkan perkembangan pasar dan kondisi geopolitik global.

Geopolitik dan Pasokan Jadi Penentu Harga

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan realisasi harga ICP masih bergantung pada dinamika pasar minyak dunia dan situasi geopolitik.

Ia mengungkapkan, "Realisasi harga akan bergantung pada perkembangan pasar dan situasi geopolitik global."

Menurut Laode, risiko yang perlu diwaspadai antara lain kemungkinan eskalasi serangan baru yang dapat mengganggu produksi minyak dunia.

Di sisi lain, peningkatan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah setelah pembukaan Selat Hormuz berpotensi kembali menekan harga minyak mentah.

Laode menegaskan, "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas."

ICP Juni Turun Dibandingkan Mei

Pemerintah akan terus memantau perkembangan pasokan, permintaan, dan kondisi geopolitik sebagai dasar penetapan arah harga minyak mentah Indonesia pada periode berikutnya.

Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP Juni 2026 sebesar 83,45 dolar AS per barel berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juni 2026.

Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan ICP Mei 2026 yang mencapai 106,56 dolar AS per barel.

Laode mengatakan, "Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang bulan Juni."

Penulis :
Ahmad Yusuf