
Pantau - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan keunggulan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia harus diiringi peningkatan nilai tambah produk hilir, penguatan inovasi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menjaga daya saing industri sawit nasional.
Hilirisasi dan Riset Jadi Fondasi Industri Sawit
Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman mengatakan perubahan kebutuhan global, mulai dari isu perubahan iklim, keberlanjutan, digitalisasi, kecerdasan artifisial, bioekonomi, ekonomi sirkuler, hingga dinamika perdagangan internasional menuntut industri sawit Indonesia terus bertransformasi.
Ia mengungkapkan, “Indonesia patut bersyukur telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun, kita tidak boleh berhenti sampai di sini. Keunggulan produksi harus diikuti oleh keunggulan inovasi, keunggulan teknologi, keunggulan SDM, dan keunggulan di dalam menciptakan nilai tambah.”
Menurut Eddy, ekosistem riset yang kuat merupakan investasi strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas sawit nasional, terutama pada perkebunan sawit rakyat yang masih memiliki ruang pengembangan yang besar.
Ia menilai hilirisasi sawit tidak hanya terbatas pada pengembangan biodiesel, tetapi juga mencakup berbagai produk turunan yang dapat menciptakan nilai ekonomi baru.
Eddy mengatakan, "Ketika berbicara mengenai hilirisasi, perhatian publik sebagian besar seringkali hanya tertuju kepada biodiesel atau pengembangan bahan bakar nabati. Padahal biodiesel hanyalah salah satu bagian dari ekosistem hilirisasi sawit.”
PERISAI 2026 Tampilkan Inovasi Sawit Berkelanjutan
Eddy menjelaskan setiap hasil riset berpotensi melahirkan produk baru yang akan membuka industri baru, mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia mengungkapkan, "Setiap industri baru akan menciptakan investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.”
Ia menambahkan, “Oleh karena itu, hilirisasi dan riset merupakan dua sisi mata uang yang sama. Tidak ada hilirisasi yang kuat tanpa inovasi. Namun demikian, juga tidak ada inovasi yang bermakna apabila tidak sampai kepada tahapan hilirisasi.”
BPDP juga menampilkan berbagai inovasi pengelolaan sawit berkelanjutan di ajang Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang berlangsung pada 20–21 Juli 2026 di Jakarta.
Kegiatan tersebut menghadirkan seminar, diskusi, pameran hasil riset, business matching, kompetisi inovasi, serta forum kolaborasi yang melibatkan peneliti, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan mahasiswa dengan fokus pada enam bidang utama, yakni bioenergi, lingkungan, biomaterial, budidaya dan pascapanen, pangan dan kesehatan, serta sosial, ekonomi, manajemen, pasar, dan teknologi informasi.
- Penulis :
- Aditya Yohan





