
Pantau - Presiden Ke-5 RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin, 20 Juli 2026, dengan pembahasan yang menyoroti hubungan bilateral Indonesia-Maroko yang telah terjalin selama 66 tahun serta berbagai peluang kerja sama di masa depan.
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum untuk mengenang hubungan historis kedua negara yang mulai dibangun sejak kunjungan Presiden Soekarno ke Rabat pada 2 Mei 1960.
Saat kunjungan bersejarah itu, Presiden Soekarno disambut langsung oleh Raja Mohammed V di Rabat.
Sebagai bentuk penghormatan atas kunjungan tersebut dan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan bangsa-bangsa Afrika serta Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung, Raja Maroko mengabadikan nama Soekarno sebagai salah satu jalan utama di ibu kota Rabat dengan nama Rue Soukarno.
Duta Besar Maroko menjelaskan bahwa jalan tersebut berada di lokasi strategis dekat gedung parlemen Maroko.
Ia mengatakan, "Lokasi jalan Soekarno itu sangat terkenal di Rabat, lokasinya dekat dengan gedung parlemen. Jadi, jalan ini sangat terkenal. Ini sebagai sebuah tanda cinta dari Maroko."
Megawati menanggapi, "Terima kasih banyak."
Hubungan Bilateral dan Kerja Sama
Dalam pertemuan itu, Houssaini juga menyampaikan undangan kepada Megawati untuk berkunjung ke Maroko.
Ia mengatakan, "Saya berkeinginan dan berharap agar Ibu Megawati dapat berkunjung ke Maroko. Kami akan menyiapkan program yang sesuai untuk Ibu Megawati."
Dubes Maroko menyebut Indonesia dan Maroko memiliki banyak kesamaan serta telah lama menjalin kerja sama bilateral di berbagai bidang.
Kerja sama tersebut mencakup perdagangan, ekonomi, budaya, dan pendidikan.
Megawati menyampaikan bahwa banyak pelajar Indonesia menempuh pendidikan di Maroko, terutama dalam bidang studi Islam dan bahasa Arab.
Dubes Maroko menjelaskan negaranya memiliki salah satu universitas tertua di dunia yang dibangun pada abad ke-9 oleh seorang hartawan perempuan bernama Fatima al-Fihri.
Ia mengatakan, "Ada beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di sana, terutama di bidang studi Islam dan Arab."
Megawati menilai Maroko merupakan negara Muslim yang relatif lebih terbuka.
Ia mengatakan, "Maroko sebagai sebuah negara Muslim relatif lebih terbuka dibandingkan negara-negara Islam di Timur Tengah dan Afrika."
Megawati juga menyampaikan bahwa setiap tahun Maroko memberikan puluhan beasiswa kepada warga Indonesia untuk menempuh pendidikan di negara tersebut.
Bahas Isu Global dan Warisan Sejarah
Megawati turut menyampaikan keinginannya agar negara-negara Asia dan Afrika kembali berkumpul dan memainkan peran sebagai kekuatan dunia ketiga.
Ia mengatakan, "Jika pada awal berdirinya hanya diikuti oleh 26 negara, saat ini pastinya dapat diikuti oleh lebih dari 100 negara dari Asia dan Afrika."
Selain hubungan bilateral, kedua tokoh membahas sejumlah isu internasional, termasuk green energy, dampak global warming, food security, serta perkembangan global lainnya.
Houssaini juga menjelaskan bahwa Maroko akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2030.
Di akhir pertemuan, Duta Besar Maroko menyerahkan sebuah bingkai berisi foto kunjungan Presiden Soekarno ke Maroko kepada Megawati.
Megawati tampak terharu saat menerima bingkai tersebut dan menyampaikan apresiasi atas pemberian itu.
Dalam pertemuan tersebut, Megawati didampingi Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, Yasonna Laoly, serta Direktur Luar Negeri PDIP Hanjaya Setiawan.
- Penulis :
- Arian Mesa





