
Pantau - Para menteri luar negeri negara-negara ASEAN secara resmi memulai pertemuan di Filipina pada Selasa (21/7/2026), dengan isu normalisasi hubungan dengan Myanmar diperkirakan menjadi agenda utama pembahasan.
ASEAN Bahas Upaya Normalisasi Myanmar
Filipina selaku ketua ASEAN 2026 menyatakan telah menjalin komunikasi dengan seluruh pihak di Myanmar untuk mendorong kemajuan konkret dalam mewujudkan perdamaian di negara tersebut yang masih dilanda konflik sejak kudeta militer pada Februari 2021.
Kementerian Luar Negeri Filipina menyebut delegasi Myanmar pada pertemuan di Manila kali ini tetap diwakili oleh pejabat nonpolitik, yakni wakil menteri luar negeri.
Juru Bicara Keketuaan ASEAN 2026 Dominic Xavier Imperial mengatakan, ASEAN "berharap supaya Myanmar dapat bergabung kembali dengan menteri dan pemimpin yang mewakili negara tersebut".
Ia menambahkan, "Tetapi saat ini, seperti yang anda ketahui, semua negara anggota ASEAN masih mencari cara untuk mewujudkan hal tersebut."
Pasca-kudeta, ASEAN tidak mengundang perwakilan politik Myanmar dalam sejumlah pertemuan tingkat tinggi, meski pada Mei 2026 para pemimpin ASEAN telah menyepakati keikutsertaan Myanmar secara daring dalam pertemuan tingkat menteri luar negeri.
Konflik Regional Lain Juga Masuk Agenda
Selain isu Myanmar, para menteri luar negeri ASEAN juga dijadwalkan membahas konflik antara Amerika Serikat dan Iran, konflik Thailand dan Kamboja, serta perkembangan situasi di Laut China Selatan.
Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 atau AMM ke-59 beserta rangkaian dialog lainnya berlangsung di Filipina pada 21–25 Juli 2026 dengan diikuti menteri luar negeri, duta besar, dan pejabat senior dari lebih dari 50 negara.
ASEAN saat ini terdiri atas 11 negara anggota, yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





