
Pantau - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan fenomena ribuan ikan mati mendadak di Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, dipicu oleh dinamika limnologi dan hidrotermal alami, serta tidak berkaitan dengan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Batur.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menegaskan fenomena tersebut bukan menjadi pertanda akan terjadinya erupsi Gunung Batur.
Ia mengatakan, “Hal ini bukan merupakan indikasi akan terjadinya erupsi di Gunung Batur.”
Dinamika Alami Picu Kematian Ikan
Berdasarkan analisis Badan Geologi, kemunculan letupan gas di Danau Batur berkaitan dengan dinamika alami yang terjadi di dalam kaldera Gunung Batur.
Lana menjelaskan bahwa pada kondisi tertentu, terutama saat terjadi percampuran massa air (overturn/upwelling), air dari lapisan dasar danau yang minim oksigen serta mengandung gas terlarut seperti hidrogen sulfida (H2S) dapat terangkat ke permukaan.
Pelepasan gas tersebut dapat menimbulkan bau belerang dan menurunkan kadar oksigen terlarut di perairan sehingga berpotensi menyebabkan kematian ikan secara massal.
Lana juga memastikan hingga saat ini tidak terdapat indikasi peningkatan kegempaan vulkanik di Gunung Batur.
Ia mengatakan, “Tingkat aktivitas Gunung Batur masih pada level I atau normal dengan rekomendasi wisatawan atau masyarakat tidak beraktivitas di kawah Gunung Batur.”
Pemkab Bangli Masih Lakukan Pendataan
Sejak awal pekan ini ribuan ikan, termasuk ikan nila hasil budidaya warga, dilaporkan mati massal di Danau Batur.
Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan masih menghitung jumlah ikan yang terdampak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli Wayan Sarma mengatakan, “Untuk angka jumlah ikan yang mati belum kami keluarkan karena semburan belerang masih belum berhenti betul.”
- Penulis :
- Aditya Yohan





