
Pantau - Pemerintah Kota Surabaya memperkuat upaya pencegahan penyakit zoonosis melalui penguatan sistem surveilans, komunikasi risiko, edukasi masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan kesiapsiagaan sebelum potensi wabah muncul.
Langkah tersebut melibatkan dinas kesehatan, sektor kesehatan hewan, organisasi masyarakat, akademisi, media, hingga pemerintah di tingkat kelurahan sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Kementerian Kesehatan menyebut sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menimbulkan wabah berasal dari hewan.
Berbagai penyakit seperti Ebola, flu burung, rabies, leptospirosis, dan Virus Nipah menjadi contoh ancaman zoonosis yang memerlukan kewaspadaan sejak dini.
Pemerintah Kota Surabaya menilai pencegahan lebih efektif dibandingkan penanganan ketika wabah telah terjadi.
Pendekatan tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi meningkatnya interaksi manusia, hewan, dan lingkungan yang berpotensi memicu penularan penyakit.
Selama lima tahun terakhir, Surabaya tidak mencatat adanya suspek flu burung pada manusia maupun kasus antraks.
Meski demikian, tren suspek leptospirosis dan kasus gigitan hewan penular rabies masih ditemukan sehingga kewaspadaan terus ditingkatkan.
Pada 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus gigitan hewan penular rabies.
Hingga pertengahan 2026, tercatat 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus gigitan hewan penular rabies di Kota Surabaya.
Sebagai kota metropolitan, pusat perdagangan, pelabuhan, dan distribusi logistik, Surabaya memiliki mobilitas manusia, hewan, dan barang yang tinggi sehingga pengawasan kesehatan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan kesehatan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan



