
Pantau - Indonesia mengajak seluruh negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) bergabung dalam World Mangrove Center (WMC) guna memperkuat kolaborasi global dalam konservasi, restorasi, dan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan.
Ajakan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) Kementerian Kehutanan Laksmi Wijayanti saat mewakili Indonesia pada 2026 APEC Ministerial Meeting on Forestry di Shenzhen, China.
Laksmi mengatakan WMC menjadi pusat kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, lembaga penelitian, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat pengelolaan mangrove dunia.
“WMC bukan hanya milik Indonesia, tetapi menjadi platform bersama untuk memperkuat riset, inovasi, pertukaran pengetahuan, serta mobilisasi sumber daya bagi konservasi dan restorasi mangrove dunia,” ungkap Laksmi.
Indonesia juga mengundang seluruh anggota APEC bergabung dalam WMC untuk memperkuat jejaring penelitian, meningkatkan kapasitas teknis, mengembangkan nature-based solutions, mempercepat penanganan perubahan iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati, serta menjaga ketahanan kawasan pesisir.
Menurut Laksmi, inisiatif tersebut sejalan dengan kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang mendorong Indonesia semakin aktif di forum internasional dalam memperkuat tata kelola kehutanan dan pembangunan ekonomi hijau.
Dalam forum bertema Building a Green Asia-Pacific for Shared Ecological Well-being, Laksmi menegaskan Indonesia telah memiliki fondasi kuat melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK).
“SVLK menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar komitmen lingkungan, tetapi juga menjadi fondasi bagi perdagangan yang kredibel dan rantai pasok hijau yang dipercaya dunia,” ujarnya.
Ia menilai penegakan hukum saja belum cukup untuk mengatasi pembalakan liar sehingga Indonesia mendorong pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai sumber ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
“Dengan menciptakan nilai ekonomi dari hutan yang tetap lestari, masyarakat memiliki insentif yang lebih besar untuk menjaga hutan dibandingkan menebangnya. Inilah transformasi yang perlu kita bangun bersama di kawasan Asia-Pasifik,” katanya.
Indonesia juga mengajak negara-negara APEC memperkuat kerja sama dalam meningkatkan akses pasar, interoperabilitas sistem traceability, mengurangi hambatan teknis perdagangan, serta mendorong investasi hijau bagi pengembangan rantai nilai HHBK di kawasan Asia-Pasifik.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



