HOME  ⁄  Nasional

PBNU Perkuat Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Santri di Lingkungan Pesantren

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

PBNU Perkuat Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Santri di Lingkungan Pesantren
Foto: (Sumber :Ilustrasi - orang tua sedang mengajari anak tentang kebersihan dan kesehatan organ intim (ANTARA/Pexels).)

Pantau - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkuat pendidikan kesehatan reproduksi bagi santri melalui penyusunan modul khusus dan pelatihan bagi pengasuh pesantren sebagai upaya menjaga kesehatan, membentuk karakter, serta mencegah kekerasan seksual.

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Kerakyatan Alissa Qatrunnada Wahid mengatakan pesantren memiliki peran penting dalam membangun pemahaman kesehatan reproduksi karena berfungsi sebagai lembaga pendidikan sekaligus tempat pengasuhan.

"Pesantren punya dua-duanya sebagai lembaga pendidikan, tapi sekaligus juga ruang pengasuhan," kata Alissa Qatrunnada Wahid.

PBNU menilai edukasi kesehatan reproduksi perlu diperkuat karena banyak remaja terpapar berbagai informasi mengenai perilaku seksual tanpa dibekali pengetahuan yang memadai.

Melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU), PBNU menggelar Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren Batch Kedua di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur.

Kegiatan tersebut ditujukan kepada para pengasuh pesantren untuk menyusun dan menyosialisasikan modul pendidikan kesehatan reproduksi yang disesuaikan dengan lingkungan pesantren.

PBNU menyatakan program tersebut akan dilanjutkan dengan Training of Trainers (TOT) bagi ustadz dan ustadzah serta pembentukan santri sebagai peer educator untuk memperluas edukasi di lingkungan pesantren.

Para pengasuh muda, termasuk gus dan ning, juga didorong memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi kesehatan reproduksi secara digital.

Sementara itu, Anggota Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan, Marlina Rully Wahyuningrum, mengungkapkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah menunjukkan 30 persen peserta didik kelas 7 dan 10 terdiagnosis mengalami anemia.

Menurut Marlina, kondisi tersebut diperparah oleh pertumbuhan pesat pada masa remaja yang tidak diimbangi asupan gizi seimbang serta persepsi body image yang keliru sehingga berpotensi memicu gangguan makan.

PBNU berharap penyusunan modul pendidikan kesehatan reproduksi dapat membantu santri terhindar dari berbagai risiko, mulai dari masalah gizi, pengaruh negatif media sosial, hingga potensi kekerasan seksual.

Penulis :
Aditya Yohan