
Pantau - Sejumlah orang tua siswa mengaku terharu dan bersyukur setelah anak mereka diterima di Sekolah Rakyat saat pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Siswa (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di Sekolah Rakyat Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Orang Tua Bersyukur Anak Kembali Memiliki Harapan
Tri Murniyati mengaku tidak mampu menahan air mata karena bahagia anaknya, Muhammad Daud, diterima di Sekolah Rakyat yang memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan.
Saat berdialog dengan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Tri mengungkapkan, "Kagem (kepada) bapak Presiden, matur nuwun sanget, terima kasih banyak sudah menyediakan gedung (Sekolah Rakyat), untuk pendidikan anak-anak kami yang kurang mampu, kami bisa meraih cita-cita melalui anak-anak kami."
Tri yang merupakan orang tua tunggal dengan lima anggota keluarga bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp700 ribu per bulan sehingga kesulitan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Ia mengungkapkan, "Karena anak-anak saya ingin sekali maju, ingin sekali menjadi anak-anak yang membanggakan orang tua. Buat saya, ini adalah kesempatan untuk kami bisa mendidik anak-anak menjadi lebih baik lagi."
Rasa syukur juga disampaikan Turmudi, buruh tani yang menjadi orang tua dari Syekh Mufti, karena anaknya dapat melanjutkan pendidikan secara gratis melalui Sekolah Rakyat.
Turmudi mengungkapkan, "Terima kasih Bapak Presiden Prabowo, saya merasa senang, saya rakyat kecil, dibantu oleh Bapak Presiden Prabowo, semoga lancar dan anak-anak saya jadi pintar."
Kemensos Targetkan Jangkau Lebih Banyak Anak
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan Program Sekolah Rakyat merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui penyediaan akses pendidikan.
Ia mengungkapkan, "Maka, negara kemudian menjemput, menjemput anak-anak dari bapak dan ibu ke rumah-rumah untuk disekolahkan di Sekolah Rakyat."
Agus Jabo menyebut masih terdapat sekitar 4,1 juta anak Indonesia yang belum sekolah atau putus sekolah karena faktor ekonomi sehingga program tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Ia mengungkapkan, "Ada 4,1 juta anak Indonesia yang belum sekolah, tidak sekolah, dan putus sekolah karena faktor ekonomi."
Lebih lanjut, Agus Jabo menyampaikan kapasitas gedung Sekolah Rakyat permanen ditingkatkan dari target semula 1.000 siswa menjadi minimal 2.000 siswa sesuai arahan Presiden.
Ia mengungkapkan, "Pak Presiden kemarin perintahnya adalah setiap sekolah harus bisa menampung 1.000 siswa, sekarang ini kita diperintahkan satu sekolah harus bisa menampung minimal 2.000 siswa, karena saking banyaknya anak-anak kita yang tidak sekolah."
- Penulis :
- Aditya Yohan



