
Pantau - Komunitas tari Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung menghadirkan maestro tari Bali sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Ni Kadek Rai Dewi Astini, dalam lokakarya bertajuk Nyantrik#9 untuk meningkatkan kompetensi penari melalui pembelajaran teknik dasar tari Bali.
Puluhan penari dari berbagai sanggar seni di wilayah eks-Karesidenan Mataraman hingga Sidoarjo mengikuti kegiatan yang digelar di Pendopo Taman Bina Bakat dan Kompetensi Siswa (TB2KS) Tulungagung, Jawa Timur.
Lokakarya diawali dengan penyampaian materi mengenai filosofi dan karakter tari Bali sebelum peserta mempraktikkan teknik dasar tari.
Penari Belajar Langsung dari Maestro
Ni Kadek Rai Dewi Astini mengajarkan teknik dasar tari Bali, mulai dari agem, tandang, tangkis, hingga tangkep.
Peserta kemudian mempraktikkan rangkaian gerak tari secara bertahap dalam suasana pelatihan yang berlangsung interaktif.
Ni Kadek Rai Dewi Astini beberapa kali memperagakan detail gerak, posisi tubuh, arah pandangan, hingga ekspresi wajah.
Maestro tari tersebut juga mengoreksi gerakan peserta satu per satu agar sesuai dengan pakem tari Bali.
Ketua Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung Aulia Renata mengatakan program Nyantrik dirancang sebagai ruang belajar bagi pelaku seni untuk berguru langsung kepada maestro maupun praktisi seni berpengalaman.
"Esensi Nyantrik adalah memberi kesempatan kepada penari untuk belajar langsung dari maestro yang memiliki kompetensi di bidangnya," ungkap Aulia.
Menurut Aulia, materi tari Bali dipilih untuk memperluas wawasan peserta yang sebagian besar berasal dari lingkungan budaya Jawa sehingga mereka dapat mempelajari karakter tari dari daerah lain.
Tari Janger Abhinaya Jadi Materi Lokakarya
Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari Tari Janger Abhinaya, karya koreografi ciptaan Ni Kadek Rai Dewi Astini.
Menurut Aulia, Tari Janger Abhinaya dipilih karena memiliki karakter yang dinamis serta memadukan unsur tradisi dengan pendekatan koreografi yang lebih dekat dengan penari masa kini.
Ni Kadek Rai Dewi Astini menjelaskan Tari Janger Abhinaya diciptakan sebagai respons terhadap situasi pandemi COVID-19 pada 2020–2021.
"Spirit paling mendasar dari Tari Janger Abhinaya adalah bagaimana membangun kesejahteraan diri agar tetap sehat. Saat pandemi banyak orang merasa terkungkung sehingga tarian ini dihadirkan untuk membawa energi positif," jelas Ni Kadek Rai Dewi Astini.
Ia menambahkan koreografi tersebut mengolah pakem Tari Janger klasik menjadi gerak yang lebih simultan dan dinamis tanpa meninggalkan akar tradisi Bali.
Penyelenggara berharap para penari tidak hanya memperkaya teknik dan wawasan artistik, tetapi juga memperkuat pelestarian serta pengembangan seni tari tradisi Nusantara melalui proses belajar langsung bersama maestro.
- Penulis :
- Leon Weldrick



