
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendorong hubungan Indonesia dan China memasuki babak baru yang tidak hanya berfokus pada perdagangan dan investasi, tetapi juga memperkuat kerja sama di bidang transisi energi, ketahanan energi nasional, dan pengembangan ekonomi hijau saat menjadi pembicara dalam Track 1.5 Indonesia–China Dialogue on Cooperation in a Changing Global Order yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Sabtu (1/8).
Fokus pada Investasi Berkualitas dan Energi Bersih
Dalam forum yang turut menghadirkan Founder FPCI Dino Patti Djalal dan Utusan Khusus Pemerintah China Bidang Perubahan Iklim Liu Zhenmin itu, Eddy menilai perubahan tatanan global akibat ketegangan geopolitik, perubahan iklim, dan transformasi ekonomi dunia menuntut kemitraan internasional yang mampu menciptakan nilai tambah bagi Indonesia.
"Indonesia membutuhkan mitra strategis yang mampu mempercepat transformasi ekonomi rendah karbon. Dalam konteks tersebut, kerja sama dengan China harus diarahkan untuk menghasilkan investasi berkualitas, transfer teknologi, pengembangan industri dalam negeri, serta penciptaan lapangan kerja hijau," ujarnya.
Ia mengatakan dampak perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan terganggunya sektor pertanian, membutuhkan langkah mitigasi melalui percepatan transisi energi dan penguatan sektor kehutanan.
Soroti Pengembangan PLTS dan Ketahanan Energi
Eddy juga menyoroti pengalaman China dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan, termasuk produksi panel surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai, turbin angin, serta kendaraan listrik.
"Pengalaman China menunjukkan bahwa transisi energi harus dijalankan secara realistis. Indonesia perlu mempercepat pengembangan energi terbarukan tanpa mengorbankan ketahanan energi, keterjangkauan harga, maupun keandalan pasokan listrik," ungkapnya.
Ia menilai Program Pembangunan 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menjadi arahan Presiden Prabowo Subianto dapat menjadi fondasi menuju kemandirian energi nasional.
"Keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kepastian regulasi, percepatan proses pengadaan proyek, kepastian tarif, serta skema pembiayaan yang kompetitif agar mampu menarik investasi berskala besar," katanya.
Menurut Eddy, kerja sama Indonesia dan China telah berkembang melalui sejumlah proyek strategis, mulai dari industri baterai kendaraan listrik, pembangunan PLTS, penguatan jaringan transmisi, hingga pengolahan sampah menjadi energi.
"Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi kekuatan baru energi bersih di Asia. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, kepastian investasi, dan kemitraan strategis yang saling menguntungkan, termasuk dengan China, kita dapat membangun ketahanan energi sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045," pungkasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



