
Pantau - Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mendorong pengembangan industri gula tumbu sebagai alternatif hilirisasi tebu untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen petani sekaligus mendukung program swasembada gula nasional di tengah meningkatnya produksi tebu.
Gula Tumbu Dinilai Jadi Solusi Tambah Nilai Hasil Tebu
Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Abdul Roni Angkat mengatakan pengembangan gula tumbu dapat menjadi pilihan selain produksi gula kristal putih.
Ia mengungkapkan, "Saat ini kita mendapat mandat untuk mewujudkan swasembada gula. Tebu sudah ditanam sejak 2025 dan akan terus berlanjut. Di sini petani menyampaikan ada alternatif selain diolah menjadi gula kristal putih, yakni gula merah tebu atau gula tumbu."
Abdul Roni menyampaikan industri gula tumbu dapat menjadi solusi sementara bagi daerah yang kapasitas pabrik gulanya masih terbatas.
Ia mengungkapkan, "Tidak semua hasil tebu dapat langsung diolah oleh pabrik gula karena kapasitasnya terbatas sambil menunggu pembangunan pabrik gula baru. Ternyata gula merah tebu ini juga memiliki pasar, termasuk untuk industri pembuatan kecap."
Ia juga mengapresiasi inovasi petani dalam mengembangkan gula tumbu, namun menegaskan peningkatan standar higienitas harus menjadi prioritas.
Ia mengatakan, "Tugas pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat bersama-sama meningkatkan standar higienitas agar sesuai ketentuan. Itu menjadi prioritas."
Petani Harapkan Dukungan Pabrik dan Modernisasi Peralatan
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto mengatakan kesiapan pabrik gula menjadi persoalan utama yang dihadapi petani ketika produksi tebu terus meningkat melalui program bongkar ratoon.
Ia mengungkapkan, "Yang paling utama kesiapan pabrik gula untuk menyerap hasil produksi tebu secara maksimal. Ketika program bongkar ratoon sudah berjalan dan produksi meningkat, tetapi pabrik gula belum siap, tentu hasilnya tidak akan optimal. Harapannya ada solusi agar semangat petani tebu tetap terjaga. Salah satu alternatif yang disampaikan ialah pengembangan gula tumbu."
Pemerintah Kabupaten Rembang menargetkan luas areal tebu meningkat dari sekitar 8.000–9.000 hektare menjadi 10.000–12.000 hektare sebagai salah satu syarat berdirinya pabrik gula di daerah tersebut.
Pemilik tempat pengolahan gula tumbu sekaligus mitra petani Koperasi Perwira Cipta Mandiri, Syued Hasyim, mengatakan produksi masih terkendala saat musim hujan karena menggunakan peralatan konvensional.
Ia mengungkapkan, "Kalau musim hujan produksi sangat terganggu. Harapan kami ada modernisasi alat sehingga biaya operasional lebih efisien dan bisa menggunakan bahan bakar alternatif."
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



