HOME  ⁄  Nasional

Rantai Pasok Dinilai Jadi Kunci Menjaga Inflasi Pangan di Tengah Ancaman El Nino

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rantai Pasok Dinilai Jadi Kunci Menjaga Inflasi Pangan di Tengah Ancaman El Nino
Foto: (Sumber :Ilustrasi. Pekerja menurunkan barang dari truk untuk dipindahkan ke kapal sebagai bagian dari proses distribusi barang. (ANTARA FOTO/ADITYA NUGROHO).)

Pantau - Kelancaran rantai pasok dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas inflasi pangan di Indonesia di tengah ancaman El Nino dan tantangan distribusi pada negara kepulauan.

Pangan Masih Jadi Penyumbang Utama Inflasi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Juli 2026 dengan andil 0,87 persen.

Inflasi kelompok tersebut tercatat sebesar 2,97 persen secara tahunan yang dipengaruhi kenaikan harga ikan segar, minyak goreng, beras, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.

Komponen harga bergejolak atau volatile food juga mencatat inflasi sebesar 2,52 persen secara tahunan dengan tekanan utama berasal dari beras, cabai merah, daging ayam ras, dan daging sapi.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi nasional masih didominasi sektor pangan yang sensitif terhadap perubahan cuaca dan kelancaran distribusi antardaerah.

Selain pangan, kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 5,12 persen akibat kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 9,04 persen yang dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.

Distribusi Dinilai Menjadi Benteng Stabilitas Harga

Analisis tersebut menegaskan bahwa persoalan utama inflasi pangan di Indonesia tidak hanya dipengaruhi produksi, tetapi juga kemampuan menjaga rantai pasok agar distribusi pangan tetap lancar hingga ke masyarakat.

Kelancaran distribusi dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pokok.

Karakter inflasi Indonesia juga dinilai berbeda dengan negara maju karena lebih banyak dipengaruhi dinamika pangan, biaya distribusi, serta komoditas yang memiliki fluktuasi harga tinggi dibandingkan inflasi jasa maupun pertumbuhan upah.

Karena itu, pengendalian inflasi di Indonesia dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga pasokan serta memperkuat distribusi pangan antardaerah agar harga tetap stabil di tengah tantangan cuaca ekstrem.

Penulis :
Aditya Yohan