HOME  ⁄  Nasional

LPEM FEB UI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,8 Persen pada Kuartal II 2026

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

LPEM FEB UI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,8 Persen pada Kuartal II 2026
Foto: (Sumber :Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia, Teuku Riefky. (ANTARA/Agatha Olivia).)

Pantau - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh sebesar 4,80 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan kisaran 4,78-4,82 persen.

LPEM FEB UI juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 mencapai 5,00 persen secara tahunan dengan rentang 4,95-5,05 persen.

“Meskipun angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 masih menimbulkan sejumlah pertanyaan, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 akan berada di bawah 5 persen,” ungkap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.

Sejumlah Faktor Tekan Pertumbuhan Ekonomi

Riefky menjelaskan proyeksi pertumbuhan di bawah 5 persen dipengaruhi high base effect karena ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen pada kuartal II 2025.

Selain itu, tidak adanya dorongan musiman pada kuartal II 2026 akibat Ramadhan dan Idulfitri berlangsung pada kuartal I turut memengaruhi perlambatan pertumbuhan.

Faktor eksternal seperti tingginya harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah juga memicu inflasi impor yang meningkatkan biaya produksi.

Kenaikan harga Pertamax dinilai ikut menekan daya beli masyarakat melalui kenaikan harga barang dan biaya transportasi.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) selama kuartal II 2026 juga terus melemah dari 123,0 pada April menjadi 120,9 pada Mei dan 117,8 pada Juni.

Sementara itu, inflasi umum meningkat dari 2,42 persen pada April menjadi 3,08 persen pada Mei dan 3,34 persen pada Juni yang didorong inflasi kelompok volatile food.

Belanja Negara Melambat, Investasi Tetap Tumbuh

Dari sisi fiskal, pertumbuhan belanja negara melambat dari 31,4 persen pada kuartal I menjadi 7,04 persen pada kuartal II 2026 dengan realisasi mencapai Rp841 triliun.

Pendapatan negara justru melampaui belanja dengan realisasi sebesar Rp884,5 triliun atau tumbuh 29,81 persen secara tahunan.

Belanja barang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 90,38 persen yang terutama didorong penyaluran anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara itu, belanja pegawai tumbuh 27,33 persen, belanja modal naik 5,56 persen, belanja bantuan sosial meningkat 4,35 persen, sedangkan belanja subsidi dan kompensasi mengalami kontraksi 11,40 persen.

Di sektor perdagangan luar negeri, neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,6 miliar dolar AS akibat lonjakan impor migas yang melampaui 20 miliar dolar AS.

Nilai ekspor juga turun dari 25,3 miliar dolar AS pada April menjadi 23,2 miliar dolar AS pada Mei 2026.

Adapun realisasi investasi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai Rp511,8 triliun atau sekitar 25,1 persen dari target investasi tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun dengan pertumbuhan 7,1 persen secara tahunan.

Penulis :
Aditya Yohan