
Pantau - Italia menghadapi gelombang panas besar keempat pada musim panas tahun ini dengan suhu di sejumlah wilayah melampaui 40 derajat Celsius, sehingga memicu respons darurat pemerintah akibat meningkatnya risiko gangguan kesehatan, kebakaran hutan dan lahan, serta dampak terhadap sektor pertanian.
Pemerintah Tingkatkan Langkah Darurat
Kementerian Kesehatan Italia menetapkan 25 dari 27 kota yang dipantau berada dalam status peringatan merah pada Senin (3/8), yang merupakan tingkat kewaspadaan tertinggi terhadap cuaca panas ekstrem.
Peringatan tersebut mencakup kota-kota besar seperti Roma, Milan, Florence, Bologna, Venesia, Napoli, dan Palermo.
Otoritas kesehatan mengimbau warga dan wisatawan menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam terpanas, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta memantau kondisi lansia dan kelompok rentan.
Pemerintah Italia juga terus menerbitkan buletin harian gelombang panas dan mengoordinasikan langkah tanggap darurat bersama pemerintah daerah serta Departemen Perlindungan Sipil.
Kekeringan Ganggu Pertanian dan Tingkatkan Risiko Karhutla
Cuaca panas dan kekeringan berkepanjangan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Italia selatan serta Pulau Sisilia dan Sardinia.
Petugas pemadam kebakaran tetap bersiaga karena angin kencang dan vegetasi yang mengering mempercepat penyebaran api.
Gelombang panas juga memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian karena menurunkan hasil panen, meningkatkan kebutuhan irigasi, serta menyebabkan ternak mengalami stres panas.
Di wilayah Piedmont, suhu tinggi mempercepat pematangan buah anggur sehingga musim panen dimulai lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut turut memperparah kekeringan di kawasan cekungan Sungai Po yang menjadi sentra pertanian utama Italia.
Debit Sungai Po yang terus menurun mengganggu irigasi, memicu kekhawatiran terhadap pasokan air minum, serta menyebabkan intrusi air laut di Delta Sungai Po yang mengancam lahan pertanian.
Truk tangki juga telah dikerahkan untuk memasok air minum ke sejumlah komunitas di wilayah Lombardy.
Fisikawan atmosfer Universitas Trento Lorenzo Giovannini mengungkapkan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas berlangsung lebih lama dan semakin intens.
"Lebih lama dan lebih intens," ungkapnya.
Menurut Giovannini, suhu tinggi yang berkepanjangan, kekeringan, dan berkurangnya ketersediaan air kini menjadi karakteristik musim panas di Italia yang memberikan tekanan terhadap ekosistem, pertanian, dan kesehatan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan



