
Pantau - Pemerintah mempercepat pembangunan jaringan gas rumah tangga untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG dengan target pembangunan 119.379 sambungan rumah (SR) pada periode 2025–2026 yang tersebar di 15 kabupaten/kota.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menyampaikan target tersebut meningkat dari sebelumnya 115.264 sambungan rumah setelah adanya penambahan 1.765 sambungan rumah di Kota Jambi, 2.000 sambungan rumah di Kota Bontang, dan 350 sambungan rumah di Kabupaten Gresik.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 3 Agustus 2026, pembangunan 119.379 sambungan rumah telah memasuki tahap penyelesaian konstruksi.
Pembangunan Jaringan Gas di Kabupaten Cirebon
Pemerintah juga memulai pembangunan jaringan gas tahap pertama di Kabupaten Cirebon dengan target 41.043 sambungan rumah.
Pembangunan tersebut mencakup Kecamatan Gempol, Kecamatan Palimanan, Kecamatan Dukupuntang, dan Kecamatan Depok.
Proyek di Kabupaten Cirebon dikontrak pada 20 Mei 2026 dengan masa pelaksanaan hingga 31 Desember 2026.
Tahap awal proyek meliputi survei jalur jaringan gas, penentuan lokasi stasiun pengatur dan pengukur tekanan gas, serta pendataan calon pelanggan.
Hingga tahun 2025, pembangunan jaringan gas nasional secara kumulatif telah mencapai 949.008 sambungan rumah yang terdiri atas 703.308 sambungan rumah yang didanai melalui APBN dan 245.700 sambungan rumah yang didanai melalui pendanaan non-APBN.
Target Nasional dan Skema Pendanaan
Pemerintah menyiapkan pembangunan 959.232 sambungan rumah pada periode 2026–2028 di delapan kabupaten/kota yang meliputi Kabupaten Bogor sebanyak 182.665 sambungan rumah, Kota Depok 156.134 sambungan rumah, Kabupaten Bekasi 120.691 sambungan rumah, Kabupaten Cirebon 117.142 sambungan rumah, Kabupaten Tangerang 100.247 sambungan rumah, Kabupaten Lamongan 101.295 sambungan rumah, Kabupaten Pasuruan 93.772 sambungan rumah, dan Kabupaten Jombang 87.286 sambungan rumah.
Dokumen Front End Engineering Design (FEED) dan Detail Engineering Design Construction (DEDC) untuk proyek tersebut telah selesai disusun sehingga proyek kini memasuki tahap persiapan pelaksanaan.
"Dengan demikian, pada periode 2025 hingga 2028, pembangunan jaringan gas ditargetkan mencapai 1.119.654 sambungan rumah," ujar Qodari.
Pemerintah menyiapkan tiga skema pendanaan untuk mendukung pembangunan jaringan gas, yakni melalui APBN, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dan investasi badan usaha milik negara (BUMN).
Pada 2025, target pembangunan melalui investasi BUMN mencapai 100.000 sambungan rumah.
Pada 2026, target pembangunan meliputi 150.000 sambungan rumah melalui APBN, 50.000 sambungan rumah melalui KPBU, dan 100.000 sambungan rumah melalui investasi BUMN.
Pada 2027, target pembangunan mencapai 350.000 sambungan rumah yang terdiri atas 150.000 melalui APBN, 100.000 melalui KPBU, dan 100.000 melalui investasi BUMN.
Pada 2028, target pembangunan kembali ditetapkan sebesar 350.000 sambungan rumah dengan komposisi pendanaan yang sama.
Pada 2029, target pembangunan juga sebesar 350.000 sambungan rumah yang terdiri atas 150.000 melalui APBN, 100.000 melalui KPBU, dan 100.000 melalui investasi BUMN.
Secara keseluruhan, pembangunan jaringan gas pada periode 2025–2029 diproyeksikan mencapai 1,45 juta sambungan rumah yang terdiri atas 600.000 sambungan melalui APBN, 350.000 sambungan melalui KPBU, dan 500.000 sambungan melalui investasi BUMN.
Kebutuhan anggaran pembangunan dihitung menggunakan pendekatan sebesar Rp10 juta per sambungan rumah yang akan disesuaikan berdasarkan hasil perencanaan teknis, kondisi lapangan, lokasi pembangunan, dan hasil pengadaan.
Pemerintah memastikan ketersediaan gas domestik mencukupi untuk mendukung percepatan pengembangan jaringan gas rumah tangga dengan alokasi sekitar 70–75 persen produksi gas nasional untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
"Pemerintah terus memastikan kesiapan pasokan berdasarkan ketersediaan sumber atau alokasi gas, volume dan profil kebutuhan pelanggan, kesinambungan pasokan selama umur operasi, serta kesiapan jaringan transmisi dan distribusi," kata Qodari.
- Penulis :
- Shila Glorya



