HOME  ⁄  Nasional

Wamen Diktisaintek Stella Christie Ajak Mahasiswa Baru ITS Berpikir Kritis Menghadapi Perkembangan AI

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Wamen Diktisaintek Stella Christie Ajak Mahasiswa Baru ITS Berpikir Kritis Menghadapi Perkembangan AI
Foto: Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof Stella Christie PhD hadir sebagai pemateri dalam rangkaian PKKMB hari ke-3 ITS, Rabu 5/8/2026 (sumber: Humas ITS)

Pantau - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof Stella Christie PhD mengajak mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk berpikir kritis dalam menghadapi euforia perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) saat menjadi pemateri dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026 di GOR Pertamina ITS, Surabaya, Rabu (5/8/2026).

Stella menyampaikan ajakan tersebut di hadapan ribuan mahasiswa baru ITS sebagai bagian dari pembekalan untuk menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Ia mengungkapkan, "Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi."

AI Perlu Dikaji dari Sisi Keberlanjutan

Stella mengajak mahasiswa melihat perkembangan AI melalui sudut pandang keberlanjutan dengan mengibaratkannya sebagai fenomena economic bubble.

Ia mencontohkan gelembung ekonomi pada perdagangan tulip di Belanda dan membandingkannya dengan fenomena gelembung dot-com.

Ia mengungkapkan, "Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu."

Stella yang juga merupakan profesor dari Tsinghua University, China, menegaskan analisis tersebut bukan bertujuan meremehkan AI.

Menurutnya, pandangan tersebut justru dimaksudkan untuk mendorong mahasiswa berpikir lebih mendalam mengenai dampak perkembangan AI.

Perguruan Tinggi Harus Tetap Menjalankan Tiga Fungsi Utama

Stella menyoroti besarnya kebutuhan sumber daya untuk menopang pusat data AI yang terus berkembang.

Ia mengatakan, "Pusat data AI memerlukan listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan proses komputasi yang juga diperkirakan terus meningkat."

Menurut Stella, kebutuhan energi dan air untuk pusat data AI bahkan setara dengan penggunaan energi dan air di negara-negara besar sehingga harus menjadi pertimbangan sebelum pemanfaatan AI dilakukan secara masif.

Ia mengingatkan, "Untuk itu, saya mengingatkan bahwa kita harus mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang dikorbankan."

Stella juga menilai perguruan tinggi harus tetap berfokus pada tiga fungsi utama, yakni penciptaan pengetahuan, transmisi pengetahuan, dan kurasi pengetahuan.

Ia menegaskan, "Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban."

Menurut Stella, ketiga fungsi tersebut menjadi kunci agar lulusan perguruan tinggi tetap relevan di era AI.

Penulis :
Shila Glorya