
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengapresiasi layanan perpustakaan keliling dan pemulihan trauma bagi anak-anak penyintas gempa di pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai bagian dari dukungan psikososial selama masa tanggap darurat.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan layanan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka.
"Selain pemenuhan kebutuhan dasar, layanan dukungan psikososial melalui kegiatan trauma healing serta kehadiran perpustakaan keliling ini menjadi bentuk perhatian terhadap kebutuhan pengungsi, khususnya anak-anak yang harus menjalani aktivitas harian di lokasi pengungsian," katanya.
Mobil perpustakaan keliling menyediakan beragam buku bacaan edukatif agar anak-anak tetap dapat belajar dan melakukan kegiatan positif selama berada di posko penampungan darurat.
Anak-Anak Diajak Membaca hingga Bernyanyi
Selain membaca buku, anak-anak penyintas gempa diajak mengikuti permainan interaktif, mendengarkan cerita, hingga bernyanyi bersama tim pendamping.
Berbagai kegiatan tersebut ditujukan untuk memberikan ruang kepada anak-anak dalam mengekspresikan perasaan serta meredakan kecemasan dan tekanan mental setelah mengalami guncangan gempa.
Berton menegaskan penanganan bencana tidak hanya berfokus pada distribusi kebutuhan fisik, tetapi juga memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis dan sosial kelompok rentan, termasuk anak-anak.
"Melalui kolaborasi berbagai pihak, layanan dukungan psikososial diharapkan dapat terus diberikan selama masyarakat masih berada di pengungsian," katanya.
Lebih dari 5.000 Warga Mengungsi
BNPB mencatat sementara lebih dari 5.000 orang mengungsi secara mandiri maupun tinggal di posko pengungsian setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7.
Pendataan petugas gabungan mencatat sedikitnya 914 rumah rusak berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik dengan rincian 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah.
Hingga Senin (17/8/2026), BNPB mencatat 68 orang meninggal dunia yang tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Ngada.
Selain korban meninggal, sebanyak 213 orang tercatat mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



