
Pantau - Sebanyak 25 mahasiswa dari 14 negara mempelajari secara langsung seni ukir kayu khas Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, bersama para pengukir lokal dalam rangkaian Summer Course 2026 Buja Sejana 2.
Kegiatan belajar mengukir tersebut berlangsung di Galeri Jepara Wood Carving pada Kamis (20/8/2026) dengan melibatkan 23 instruktur pengukir.
Para mahasiswa mendapatkan kesempatan mengenal proses pembuatan ukiran sekaligus mempraktikkan keterampilan dasar mengukir kayu khas Jepara.
Diharapkan Menjadi Duta Budaya Jepara
Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto berharap interaksi langsung antara mahasiswa asing dan pengukir lokal dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya ukir Jepara kepada masyarakat internasional.
"Harapan kami mereka dapat menjadi duta budaya masyarakat Jepara di negaranya masing-masing," ungkap Hadi.
Menurut Hadi, keberlanjutan seni ukir Jepara membutuhkan penguatan regenerasi agar keterampilan mengukir tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Minat generasi muda untuk mempelajari sekaligus meneruskan keterampilan tersebut juga perlu terus ditumbuhkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni ukir Jepara.
Seni ukir Jepara telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2015 sehingga pengenalannya kepada mahasiswa asing diharapkan turut berkontribusi menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.
Salah satu peserta asal Afganistan, Sayed Rahman Hamid, mengaku baru pertama kali memegang pahat saat mengikuti kegiatan belajar mengukir kayu.
Mahasiswa asal Tanzania, Aisha Jumma Mussa, sebelumnya telah mencari berbagai informasi mengenai seni ukir Jepara melalui internet sebelum mengikuti pelatihan secara langsung.
Setelah mencoba mengukir, Aisha menilai proses mengolah kayu menjadi ukiran membutuhkan ketekunan dan keterampilan khusus.
Mahasiswa Pelajari Teknik Dasar Mengukir
Salah satu instruktur, Rumini, menjelaskan para peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan pola-pola ukiran khas Jepara sebelum mempelajari tahapan dasar mengukir.
Teknik dasar yang diajarkan kepada mahasiswa meliputi ngrancapi, nglemahi, ngekoli, dan nyoreti.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari Summer Course 2026 Buja Sejana 2 yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Koordinator kegiatan Wati Istanti mengatakan program tersebut mengajak mahasiswa mempelajari budaya maritim melalui proses pembelajaran selama tiga bulan.
Pembelajaran menggunakan metode blended yang menggabungkan kegiatan daring dengan pembelajaran langsung atau luring.
"Supaya mahasiswa tidak sekadar tahu secara daring, kami mengajar secara luring untuk melihat dan mempraktikkan langsung," kata Wati.
Melalui pembelajaran luring, mahasiswa dapat melihat sekaligus mempraktikkan keterampilan yang sebelumnya dipelajari secara daring.
Penyelenggara juga membuka peluang melanjutkan kerja sama dengan praktisi seni ukir Jepara setelah kegiatan tersebut berakhir.
Kerja sama lanjutan dapat melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, industri, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemerintah, serta para praktisi ukir.
Kolaborasi berbagai pihak tersebut diharapkan mendukung pengenalan sekaligus keberlanjutan seni ukir Jepara sebagai warisan budaya Indonesia.
- Penulis :
- Leon Weldrick



