
Pantau - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia sekaligus Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah mendorong Indonesia menguasai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan memperkuat kepemimpinan yang memadukan kapasitas intelektual dan kekuasaan.
Fahri mengatakan pengelolaan negara di tengah disrupsi digital membutuhkan pemahaman mendalam mengenai statecraft atau seni mengelola negara serta visi kepemimpinan lintas generasi.
Menurut dia, statecraft merupakan kemampuan seorang pemimpin mengorkestrasi berbagai elemen bangsa, mulai dari rakyat, wilayah, struktur kekuasaan, hingga pemerintahan.
"Politisi hanya berpikir tentang pemilu berikutnya, sementara kalau negarawan berpikir tentang generasi berikutnya," kata Fahri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Pernyataan itu disampaikan Fahri dalam Kajian Wawasan Kebangsaan bertajuk "Memahami Statecraft: Mengelola Negara di Era AI".
AI Harus Digunakan untuk Kesejahteraan Publik
Fahri mengingatkan elite dan penyelenggara negara agar tidak terjebak dalam pragmatisme politik jangka pendek yang hanya berorientasi pada akumulasi kekuasaan.
Menurut dia, ilmu pengetahuan dan gagasan harus menjadi landasan dalam setiap pengambilan keputusan pemerintah.
Fahri menilai AI dapat menjadi peluang besar apabila dikelola oleh kepemimpinan yang memiliki kapasitas intelektual tinggi.
“Menghadapi era AI, kemudahan akses teknologi harus diimbangi dengan kapasitas intelektual manusia. AI harus diarahkan untuk mendukung kesejahteraan publik, perbaikan ekonomi, dan tata kelola kekuasaan yang berkeadilan,” ujarnya.
Fahri mendorong arah baru kepemimpinan nasional yang memadukan ilmu pengetahuan dan kekuasaan agar Indonesia mampu menjadi game changer sekaligus kekuatan global di era kecerdasan buatan.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal berupa wilayah geografis yang luas, populasi besar, status sebagai salah satu negara demokrasi terbesar, serta populasi Muslim terbesar di dunia.
Namun, Fahri menilai potensi tersebut harus didukung dengan penguatan sektor teknologi, militer, dan ekonomi, termasuk penguasaan AI.
"Indonesia harus menjadi game changer yang terlibat lebih jauh dalam dinamika global. Kita harus bersiap dengan membangun kekuatan teknologi, militer, dan ekonomi ke depan," tegas Fahri.
Fahri Minta Manusia Tidak Menjadi Budak Mesin
Fahri meminta masyarakat tidak bersikap pesimistis menghadapi perkembangan AI, termasuk terkait kekhawatiran hilangnya lapangan pekerjaan akibat teknologi tersebut.
Menurut dia, manusia sebagai pencipta teknologi harus tetap menjadi pihak yang mengendalikan pemanfaatan AI.
Fahri memperkirakan pola kerja manusia akan mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi, tetapi perubahan tersebut tidak berarti menghilangkan peran manusia sepenuhnya.
"Tetapi kita tidak boleh menjadi budak mesin, melainkan mesin yang harus kita pekerjakan untuk kepentingan umat manusia,” tuturnya.
Menurut Fahri, AI dapat dimanfaatkan untuk menciptakan keadilan, merawat bumi, serta memberikan ruang lebih luas kepada manusia untuk berkarya dan meningkatkan kualitas kehidupan.
Ia menekankan peningkatan kapasitas keilmuan secara berkelanjutan menjadi kunci agar manusia tetap memegang kendali terhadap arah perkembangan teknologi.
Anak Muda Didorong Kuasai Coding dan Algoritma
Fahri juga menyoroti perubahan batas negara di ruang digital ketika masyarakat semakin terhubung dalam berbagai platform global.
Menurut dia, sejumlah platform digerakkan algoritma yang dapat memicu konflik melalui penyebaran informasi keliru atau menyesatkan demi kepentingan tertentu.
Fahri mendorong generasi muda Indonesia menguasai keterampilan teknis tingkat tinggi seperti coding dan perancangan algoritma lokal yang berakar pada nilai komunal, empati, serta gotong royong.
Ia menilai Indonesia memiliki fondasi sejarah yang dapat digunakan untuk menghadapi disrupsi digital, mulai dari fondasi narasi, ideologi, konstitusi, hingga pembangunan kelembagaan negara.
Fahri menegaskan keberhasilan Indonesia menghadapi perubahan zaman bergantung pada perpaduan antara kekuasaan dan kapasitas intelektual.
"Kekuasaan tanpa ilmu sangat berbahaya, sedangkan ilmu tanpa kekuasaan menjadi lemah dan tidak berdaya. Masa depan Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang bertindak layaknya philosopher king—memiliki otoritas kekuasaan yang efektif sekaligus kebijaksanaan berbasis ilmu pengetahuan," tegasnya.
"Kekuasaan itu hanya ada dua sisi: power dan ilmu. Ke depan, dua hal ini tidak boleh terpisah. Kita tidak ingin orang berkuasa tapi tidak berilmu, atau orang berilmu tapi lemah tanpa kekuasaan. Kekuasaan tanpa ilmu akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa dan kemanusiaan," kata Fahri.
- Penulis :
- Gerry Eka



