HOME  ⁄  Nasional

Kementerian ESDM Petakan Titik Rawan Bencana di NTT Usai Gempa Magnitudo 7,7

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kementerian ESDM Petakan Titik Rawan Bencana di NTT Usai Gempa Magnitudo 7,7
Foto: Tim ESDM Siaga Bencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di Desa Watu Tango, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu 23/8/2026 (sumber: ANTARA/Aria Ananda)

Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan titik-titik rawan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa magnitudo 7,7 berdampak terhadap sejumlah wilayah pada 15 Agustus 2026.

Pemetaan dilakukan untuk memperkuat pemantauan dan penyampaian informasi mengenai potensi bencana sekaligus mendukung penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.

Ketua Tim ESDM Siaga Bencana Rudy Sufahriadi mengatakan pemetaan dilaksanakan bersamaan dengan peninjauan kondisi lapangan serta distribusi bantuan ke sejumlah wilayah terdampak gempa.

"Kita tetap memetakan di mana tempat rawan bencana," kata Rudy.

Tim ESDM Tinjau Wilayah Terdampak dan Salurkan Bantuan

Dalam rangkaian peninjauan di Kabupaten Manggarai, Rudy mengawali kegiatan dengan mengunjungi Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Anak Ranakah.

Tim kemudian mendatangi Desa Watu Tango untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak sebelum melanjutkan kunjungan ke Posko ESDM Siaga Bencana di Kecamatan Reok.

Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan wilayah di sekitar sumber gempa termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi.

Berdasarkan analisis Badan Geologi, gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Badan Geologi juga menjelaskan batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan akibat gempa.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti arahan pemerintah daerah, memeriksa kondisi bangunan masing-masing, mematuhi jalur evakuasi, serta menghindari kawasan tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah.

Rudy mengatakan luasnya sebaran wilayah terdampak menjadi salah satu tantangan penanganan bencana karena masyarakat berada di berbagai lokasi dengan jarak berbeda-beda dari jalur utama.

Tim ESDM Siaga Bencana masih berupaya menjangkau masyarakat yang berada di sejumlah lokasi yang lebih sulit didatangi.

"Nah, masih ada masyarakat mungkin di beberapa media saya dengar yang belum terjamah, nah itu kita akan coba jangkau," ungkap Rudy.

Tiga Posko ESDM Layani Wilayah dengan Pengungsi Terbanyak

Kementerian ESDM telah mendirikan tiga Posko ESDM Siaga Bencana untuk mendukung penanganan masyarakat di wilayah terdampak gempa.

Ketiga posko tersebut berada di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur; Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai; serta Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Di Posko ESDM Siaga Bencana Reok, tim melakukan pendataan dan menghimpun berbagai kebutuhan masyarakat yang tinggal di desa dan dusun sekitar.

Hasil pendataan lapangan akan digunakan sebagai dasar menentukan langkah tindak lanjut sesuai kondisi dan kebutuhan yang ditemukan di setiap lokasi.

Manggarai Timur, Manggarai, dan Nagekeo yang menjadi lokasi tiga Posko ESDM Siaga Bencana merupakan kabupaten dengan jumlah pengungsi tertinggi akibat gempa.

Berdasarkan pemutakhiran data nasional Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu, 23 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB, jumlah pengungsi di Kabupaten Manggarai mencapai 46.519 jiwa.

Kabupaten Nagekeo tercatat memiliki 34.256 pengungsi, sedangkan jumlah pengungsi di Kabupaten Manggarai Timur mencapai 31.372 jiwa.

Secara keseluruhan, BNPB mencatat 161.084 orang mengungsi akibat gempa di NTT dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 91 jiwa.

ESDM Koordinasikan Kerusakan Rumah dengan BNPB

Selain memetakan titik rawan bencana, Tim ESDM Siaga Bencana menerima laporan masyarakat mengenai kerusakan rumah akibat gempa.

Laporan tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan Kementerian ESDM dengan BNPB untuk mendapatkan tindak lanjut.

"Yang kedua, mereka menyampaikan infrastruktur rumah. Nanti kami sampaikan ke BNPB bahwa rumah-rumahnya itu yang retak-retak nanti BNPB yang menindaklanjuti," kata Rudy.

Berdasarkan data hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, BNPB mencatat sebanyak 53.971 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 19.006 rumah masuk kategori rusak berat, 11.777 rumah rusak sedang, dan 23.188 rumah rusak ringan.

Di tiga kabupaten tempat Posko ESDM Siaga Bencana didirikan, Kabupaten Manggarai Timur mencatat kerusakan rumah terbanyak dengan 17.039 unit.

Sementara itu, sebanyak 7.045 unit rumah tercatat rusak di Kabupaten Manggarai dan 4.829 unit rumah rusak di Kabupaten Nagekeo.

BNPB menegaskan data kerusakan rumah tersebut masih bersifat sementara karena proses verifikasi dan validasi terus dilakukan untuk memastikan jumlah serta tingkat kerusakan sesuai kondisi faktual di lapangan.

Penulis :
Shila Glorya