HOME  ⁄  Nasional

Korban Gempa Flores Bertambah Menjadi 100 Orang, BNPB Waspadai Hoaks Tsunami Susulan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Korban Gempa Flores Bertambah Menjadi 100 Orang, BNPB Waspadai Hoaks Tsunami Susulan
Foto: Ilustrasi: Petugas medis merawat warga yang terluka akibat gempa bumi di RSUD TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 15/08/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Mega Tokan)

Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat gempa bumi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 100 orang setelah sejumlah korban luka berat yang menjalani perawatan tidak dapat diselamatkan.

Selain korban meninggal dunia, gempa tersebut menyebabkan 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 orang harus bertahan di berbagai tempat pengungsian.

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan jumlah korban meninggal pada hari pertama dan kedua setelah gempa sebelumnya tercatat sebanyak 48 orang.

"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan, sehingga yang semula di hari pertama, hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi seratus yang meninggal dunia," ungkap Suharyanto.

Hoaks Tsunami Picu Pengungsian Mandiri

BNPB menyebut penanganan darurat turut diperumit oleh beredarnya informasi bohong atau hoaks mengenai potensi tsunami susulan yang membuat sebagian masyarakat panik dan memilih mendirikan lokasi pengungsian secara mandiri.

Sejumlah titik pengungsian mandiri berada jauh dari jangkauan petugas, termasuk di kawasan perbukitan, sehingga distribusi bantuan dan pemenuhan kebutuhan dasar menjadi lebih sulit.

Suharyanto membantah informasi mengenai tsunami susulan dan meminta masyarakat hanya mengacu pada informasi resmi dari instansi berwenang, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Ada beberapa langkah yang kami lakukan, yang pertama kami imbau kepada masyarakat yang mengungsi mandiri karena takut gempa susulan, ada isu tsunami susulan, semua itu tidak betul, karena setiap pagi instansi yang berwenang, sekali lagi Kepala BMKG selalu memperbarui, menginformasikan perkembangan gempa, dan dalam delapan hari ini tidak pernah ada satupun gempa susulan yang melebihi gempa utama. Nah ini juga kami suarakan supaya masyarakat tidak percaya kepada isu-isu hoaks yang tidak bertanggung jawab," kata Suharyanto.

BNPB mengimbau masyarakat yang mengungsi secara mandiri karena takut terhadap gempa maupun isu tsunami susulan agar tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Gempa Susulan Tercatat 6.409 Kali

Berdasarkan data BMKG yang disampaikan BNPB, sebanyak 6.409 gempa tercatat hingga pukul 05.00 WIB pada hari kedelapan setelah bencana.

Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan magnitudo 6,2, sedangkan gempa terkecil memiliki magnitudo 1,1.

Dari seluruh rangkaian gempa tersebut, sebanyak 33 kejadian memiliki kekuatan sama dengan atau lebih besar dari magnitudo 5 dan 139 kejadian dirasakan masyarakat.

"Susulan yang terbesar ada 6,2 magnitudo. Kemudian, yang terkecil 1,1. Yang sama dengan atau lebih besar dari 5 magnitudo ada 33 kali. Dan gempa susulan, ya tentu saja yang 33 kali itu pasti dirasakan masyarakat. Tetapi dari 6.409 kali gempa itu ada 139 kali yang dirasakan oleh masyarakat," ungkap Suharyanto.

BNPB memperkirakan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan hingga kondisi lempeng bumi kembali stabil.

Meski gempa susulan masih berpotensi berlangsung beberapa minggu, tren aktivitasnya diperkirakan terus menurun.

Bantuan ke Pengungsi Terpencil Belum Sepenuhnya Terjangkau

Pemerintah daerah terus berupaya menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat yang memilih bertahan di titik-titik pengungsian mandiri.

Distribusi bantuan ke sejumlah lokasi yang sulit dijangkau dilakukan menggunakan kendaraan berukuran kecil hingga dengan berjalan kaki menembus kawasan perbukitan.

BNPB mengakui kebutuhan seluruh pengungsi mandiri hingga saat ini belum sepenuhnya dapat dijangkau dan dipenuhi.

"Apakah semuanya sudah terjangkau, apakah semuanya sudah dapat, apakah semuanya sudah cukup, kami jawab belum cukup. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kami akan berusaha sekuat tenaga agar para pengungsi mandiri yang tetap bertahan di tempat-tempat yang jauh (atau) tidak mau merapat ke titik-titik pengungsian terpusat, tetap dilayani kebutuhan logistik dan kebutuhan dasar manusia lainnya," kata Suharyanto.

Pemerintah berkomitmen terus berupaya memastikan masyarakat yang bertahan di lokasi pengungsian terpencil memperoleh logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Penulis :
Arian Mesa