HOME  ⁄  Nasional

BGN DIY Menggelar Edukasi Gizi Serentak untuk Memperkuat Pelaksanaan Program MBG

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BGN DIY Menggelar Edukasi Gizi Serentak untuk Memperkuat Pelaksanaan Program MBG
Foto: (Sumber :Petugas BGN Regional DIY menjelaskan materi dalam kegiatan edukasi gizi serentak di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di DIY, 26-28 Agustus 2026. ANTARA/HO-BGN Regional DIY.)

Pantau - Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar edukasi gizi secara serentak di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah DIY pada 26-28 Agustus 2026 untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gizi, pola makan sehat, dan keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Koordinator Regional BGN DIY Wirandita Gagat Widyatmoko mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah strategis untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sebagai penerima manfaat MBG.

"Ini merupakan inisiatif yang kami pikir penting dan strategis dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat," katanya.

Menurut Gagat, masyarakat tidak hanya menjadi penerima dan pengonsumsi MBG, tetapi juga perlu memahami tujuan pemberian makanan serta cara memilih makanan dengan menerapkan prinsip gizi seimbang.

"Makanan yang diberikan dalam program MBG merupakan pintu masuk untuk membangun kebiasaan dan pengetahuan gizi yang lebih baik," ujar Gagat.

BGN DIY menilai keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang didistribusikan, tetapi juga pemahaman penerima manfaat mengenai nilai gizi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Edukasi ini merupakan bagian dari penguatan kembali fungsi SPPG sebagai unit pelayanan publik, bukan semata-mata tempat produksi dan distribusi makanan," katanya.

Gagat mendorong seluruh SPPG di DIY meningkatkan komunikasi dengan pihak dalam ekosistem penerima manfaat sekaligus menjadikan kegiatan edukasi sebagai ruang dialog untuk menerima masukan dan memperbaiki kualitas pelayanan.

"Materi edukasi antara lain mencakup prinsip gizi seimbang, pemenuhan kebutuhan gizi, pemilihan pangan yang beragam dan aman, serta pemahaman terhadap makanan yang dikonsumsi sehari-hari," ujarnya.

BGN menekankan kepatuhan terhadap prosedur keamanan pangan sebagai tanggung jawab seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem distribusi MBG.

"Bukan hanya tanggung jawab SPPG, tetapi termasuk pihak sekolah, guru, kader, pengelola kelompok penerima manfaat, serta penerima manfaat itu sendiri," kata Gagat.

Seluruh SPPG juga diminta memahami prosedur operasional standar mulai dari penerimaan makanan, penanganan, penyimpanan sementara, distribusi, hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat.

"Pemahaman bersama terhadap prosedur tersebut penting untuk menihilkan potensi gangguan keamanan pangan sesuai pedoman keamanan pangan siap saji," ujar Gagat.

SPPG bertugas memastikan makanan diproduksi dan didistribusikan sesuai standar, sedangkan ekosistem penerima manfaat perlu menjalankan ketentuan keamanan pangan setelah makanan diterima hingga dikonsumsi.

"Kami tidak ingin keamanan pangan hanya dipahami sebagai urusan dapur karena begitu makanan keluar dari SPPG, ada bagian dari rantai keamanan pangan yang juga menjadi tanggung jawab ekosistem penerima manfaat," kata Gagat.

Gagat mengatakan edukasi diperlukan agar manfaat program MBG tidak berhenti setelah makanan selesai diberikan, tetapi turut membentuk pengetahuan dan kebiasaan masyarakat.

"Kalau kita memberikan makanan sekaligus pengetahuan, manfaatnya dapat terus dibawa pulang, diterapkan di keluarga, dan diwariskan menjadi kebiasaan yang lebih baik," ujarnya.

BGN DIY juga mengajak seluruh SPPG mendokumentasikan dan memublikasikan kegiatan edukasi secara kreatif melalui media sosial guna memperluas jangkauan informasi dan menyebarkan praktik baik kepada masyarakat.

"Kampanye bersama yang diusung adalah 'MBG Jogja Istimewa-dari Jogja untuk Indonesia'," kata Gagat.

BGN DIY berharap SPPG tidak hanya berfungsi sebagai penyedia makanan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem edukasi gizi, keamanan pangan, dan pembangunan kesadaran hidup sehat di masyarakat.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026