HOME  ⁄  Lifestyle

Lima Tanda Menunjukkan Seseorang Sedang Mengalami Mode Bertahan Hidup akibat Tekanan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Lima Tanda Menunjukkan Seseorang Sedang Mengalami Mode Bertahan Hidup akibat Tekanan
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Seorang wanita sedang merenung di dekat tumpukan buku. ANTARA/Pexels/George Milto.)

Pantau - Seseorang yang menghadapi tekanan berat dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan dapat memasuki survival mode atau mode bertahan hidup yang ditandai antara lain dengan mudah lupa, gangguan tidur, mudah tersinggung, terlalu lama memikirkan emosi negatif, dan keinginan mengendalikan situasi.

Menurut Real Simple, seseorang dalam kondisi tersebut dapat terlihat baik-baik saja meski sebenarnya sedang menghadapi tekanan dan berusaha menjalani aktivitas tanpa menambah stres.

Pekerja sosial klinis berlisensi sekaligus pendiri Temperance Psychotherapy Nicole Ivelevitch mengatakan salah satu tanda otak mengalami kelelahan adalah seseorang menjadi lebih pelupa, termasuk lupa arah cerita yang hendak disampaikan atau tempat meletakkan barang.

Ivelevitch mengungkapkan, "Karena otak anda fokus pada pemantauan potensi ancaman dan tuntutan, otak akan menghabiskan lebih sedikit energi untuk memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif."

Dokter spesialis gawat darurat sekaligus Kepala Petugas Kesehatan Physician Wellness Solutions Archana Shrestha mengatakan terbangun secara konsisten dan sulit kembali tidur pada tengah malam juga menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

Menurut Shrestha, kondisi tersebut dapat terjadi ketika tubuh sudah beristirahat tetapi pikiran masih aktif sehingga seseorang terbangun dengan perasaan cemas atau khawatir.

"Semua itu terasa seperti ancaman dan mengaktifkan sistem saraf simpatik anda," kata Shrestha.

Ivelevitch mengatakan seseorang juga dapat menjadi lebih mudah marah ketika mengalami kelelahan kerja dan sistem saraf menjadi tidak teratur.

Kondisi tersebut berkaitan dengan amigdala yang menjadi lebih reaktif dan korteks prefrontal yang kurang berperan sehingga gangguan kecil dapat lebih mudah memicu emosi negatif.

"Pada dasarnya, alih-alih naik dari nol ke lima, Anda mungkin sudah berada di angka enam, sehingga ketidaknyamanan kecil akan membuat Anda mencapai angka sepuluh," ujar Ivelevitch.

Tanda lainnya adalah kecenderungan merenungkan emosi negatif lebih lama dari biasanya dan hanya sedikit merasakan emosi positif.

Shrestha mencatat terlalu lama merenungkan emosi negatif dapat menyebabkan stres kronis dan masalah kesehatan lainnya.

Ketika kehidupan terasa kacau, seseorang dalam mode bertahan hidup juga dapat berusaha mengendalikan situasi untuk menghilangkan potensi ancaman.

"Seseorang yang biasanya cukup santai (ketika berada dalam mode bertahan hidup) mungkin mulai merasa lebih perfeksionis atau merasa perlu segala sesuatunya berjalan persis seperti yang direncanakan," kata Ivelevitch.

Menurut Ivelevitch, perilaku tersebut bukan ditujukan untuk mengendalikan orang lain, melainkan menjadi upaya menciptakan prediktabilitas.

Shrestha menyarankan seseorang membiasakan diri mengatakan bahwa dirinya tetap aman sambil menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan mengembuskannya kembali melalui mulut serta memperhatikan hal-hal di sekitarnya.

"Ini sangat efektif untuk membantu orang beralih dari mode bertahan hidup ‘lawan atau lari’, di mana sistem saraf simpatik mereka diaktifkan dan mengalihkan mereka ke sistem saraf parasimpatik," kata Shrestha.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026