
Pantau - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan ekonomi kreatif berbasis masyarakat, termasuk melalui pemberdayaan santri dan pesantren.
Muktamar yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 itu dinilai dapat memperkuat kolaborasi pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat dalam menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan.
Riefky menyoroti NU sebagai organisasi Muslim dengan basis massa besar yang dinilai konsisten mempertahankan integritas dan komitmennya di tengah masyarakat.
Dengan kekuatan basis masyarakat tersebut, NU dinilai memiliki potensi menjadi salah satu penggerak utama pengembangan ekonomi kreatif nasional.
Pesantren Berpotensi Jadi Inkubator Bisnis Ekonomi Kreatif
Riefky menilai tema Muktamar ke-35 NU, yakni "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa", memiliki keterkaitan kuat dengan semangat menjadikan ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
"Tema 'Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa' sangat relevan dengan semangat ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. Menjaga muruah berarti memiliki nilai, identitas, dan jati diri bangsa, sementara memperkaya khidmat bermakna menghadirkan karya serta kreativitas yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Riefky.
Ia juga mengapresiasi kontribusi NU dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif sebagai kekuatan ekonomi yang tumbuh dari masyarakat.
Pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui pemberdayaan santri, pesantren, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai ekosistem yang tersebar di daerah.
Menurut Riefky, ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga mencakup transformasi dan inovasi berbasis kreativitas yang dapat menjadi salah satu jalan memberikan kemaslahatan bagi bangsa.
Riefky turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan besar warga NU yang dibuka di Lapangan Untung Suropati, Jombang.
Lokasi kegiatan yang berada di kawasan pesantren dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif berbasis pesantren.
Kawasan pesantren dapat berperan sebagai inkubator bisnis sekaligus pusat produksi dalam rantai nilai ekonomi kreatif.
Pengembangan ekosistem tersebut juga dinilai dapat mempercepat terbentuknya santri yang mandiri, produktif, dan kreatif.
Menurut Riefky, NU mempunyai akar budaya dan religi yang kuat di tengah masyarakat dengan dukungan aktivitas pemberdayaan santri yang aktif dan kreatif.
"NU memiliki akar budaya religi yang kuat di tengah masyarakat, termasuk pemberdayaan terhadap santri di kalangan pesantren yang begitu aktif dan kreatif. Ini merupakan modal sosial dan kultural yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif," ungkap Riefky.
Kombinasi kekuatan sosial, budaya, keagamaan, dan kreativitas santri tersebut dinilai menjadi modal besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
Bazar dan Expo Ikut Gerakkan Aktivitas Ekonomi
Ketua Panitia Muktamar NU ke-35 sekaligus Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak dalam penyelenggaraan muktamar.
Dukungan tersebut mencakup kesiapan fisik, logistik, tata kelola penyelenggaraan, hingga kesiapan sumber daya manusia.
Selain agenda utama muktamar, panitia menyelenggarakan Bazar Muktamar dan Expo pada 20–31 Agustus 2026 yang dilengkapi panggung budaya dan pasar malam.
Kehadiran kegiatan ekonomi dan budaya tersebut membuat Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi forum organisasi, tetapi juga diarahkan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi.
"Kami juga mengadakan Bazar Muktamar dan Expo yang berlangsung sejak tanggal 20 hingga 31 Agustus 2026 yang dilengkapi panggung budaya dan pasar malam. Maka, Muktamar ke-35 tidak hanya menjadi forum organisasi, tetapi ikut menggalakkan ekonomi nasional," kata Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Rangkaian pembukaan Muktamar ke-35 NU turut menampilkan berbagai pertunjukan seni yang melibatkan santri dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Pertunjukan tersebut mencakup seni marawis dan paduan suara simfoni dengan membawakan sejumlah lagu, antara lain Indonesia Raya, Mars Syubbanol Wathon, Shalawat Asyghil, Shalawat Jibril, serta lagu tema Muktamar NU.
Para santri juga membawakan lagu populer "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" dalam rangkaian pembukaan muktamar.
Ribuan Delegasi Ikuti Muktamar ke-35 NU
Muktamar ke-35 NU berlangsung selama lima hari pada 27–31 Agustus 2026 dengan membawa sejumlah agenda strategis organisasi.
Salah satu agenda utama muktamar adalah pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031.
Muktamar diikuti 38 pengurus wilayah NU, 523 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan 33 pengurus cabang istimewa NU.
Berbagai unsur kepengurusan tersebut mengirimkan total 2.232 delegasi untuk mengikuti Muktamar ke-35 NU.
Pelaksanaan muktamar sekaligus dimanfaatkan untuk menghubungkan agenda organisasi NU dengan pemberdayaan santri, penguatan pesantren, pengembangan ekosistem usaha, serta akselerasi ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
- Penulis :
- Shila Glorya




