HOME  ⁄  Nasional

PWNU Jawa Timur Usulkan Aswaja Center Menjadi Lembaga Resmi NU di Muktamar Ke-35

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

PWNU Jawa Timur Usulkan Aswaja Center Menjadi Lembaga Resmi NU di Muktamar Ke-35
Foto: Kegiatan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Aswaja Center NU di Masjid Jami' Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026). PWNU Jatim mengusulkan Aswaja Center NU menjadi salah satu lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama (sumber: PWNU Jatim)

Pantau - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengusulkan Aswaja Center NU menjadi salah satu lembaga resmi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) melalui forum Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Usulan tersebut disampaikan Koordinator Aswaja Center NU Jawa Timur K.H. Ma'ruf Khozin bersama Wakil Ketua PWNU Jawa Timur K.H. Balya Firjaun Barlaman dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Aswaja Center NU di Masjid Jami' Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Sabtu.

PWNU Jawa Timur diketahui telah memiliki Kelompok Kerja (Pokja) Aswaja Center NU sejak 2011, sementara sejumlah pengurus cabang NU juga telah membentuk Aswaja Center.

"Yang jelas, PWNU Jatim sudah punya Pokja Aswaja Center NU sejak 2011 dan beberapa cabang juga sudah punya. Hal itu sejalan dengan nilai Aswaja sebagai ruh NU," kata K.H. Ma'ruf Khozin.

Meski demikian, Ma'ruf menegaskan usulan menjadikan Aswaja Center NU sebagai lembaga resmi masih dalam tahap pembahasan pada Muktamar ke-35 NU sehingga belum menjadi keputusan final.

Aswaja Dinilai Menjadi Landasan Menghadapi Persoalan Masyarakat

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur K.H. Balya Firjaun Barlaman menjelaskan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah tidak dapat dilepaskan dari tiga prinsip dalam agama Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Rasulullah.

"Tiga prinsip itu diterapkan NU dalam tiga serangkai ajaran KH Hasyim Asy'ari, yakni akidah, syariah, dan tasawuf," ujar K.H. Balya Firjaun Barlaman.

Wakil Ketua Aswaja Center PWNU Jawa Timur K.H. Faris Khoirul Anam menambahkan Aswaja memiliki karakter tawassuth, tawazzun, i'tidal, dan tasamuh yang dapat diterapkan untuk mencari penyelesaian atas berbagai persoalan masyarakat.

"Aswaja itu ilmu dan mental atau karakter yang bersifat problem solver, misalnya dengan qiyas sebagai jalan tengah," kata K.H. Faris Khoirul Anam.

<h2>Muktamar Diharapkan Rumuskan Program NU Abad Kedua</h2>

Selain pembahasan mengenai Aswaja Center, Majelis Alumni IPNU dan IPPNU menyampaikan aspirasi agar Muktamar ke-35 NU tidak hanya berfokus pada persoalan kepemimpinan organisasi.

Majelis Alumni IPNU dan IPPNU berharap muktamar turut merumuskan program NU Abad Kedua untuk periode 2026–2031, terutama dalam mempersiapkan organisasi menghadapi perkembangan era digital.

Jaringan Penulis dan Penggerak Literasi (JPPL) bersama Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur juga telah merumuskan buku sejarah berbasis dokumen sebagai bentuk kontekstualisasi terhadap buku-buku sejarah NU yang telah tersedia sebelumnya.

Buku Induk Aswaja NU Diluncurkan, Ribuan Turots Dipamerkan

Silatnas Aswaja Center NU dihadiri utusan dan delegasi dari sejumlah daerah, antara lain Jawa Timur, Makassar, Gorontalo, dan Jawa Barat.

Dalam kegiatan tersebut, K.H. Ma'ruf Khozin turut meluncurkan "Buku Induk Aswaja NU" yang membahas tiga prinsip Aswaja serta memuat dalil mengenai Yasin, tahlil, tawassul, dan haul.

Buku tersebut juga memuat sejarah NU yang mencatat peran sejumlah tokoh, yakni KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Ridlwan Abdullah, dan KH Mas Alwi Abdul Aziz.

Di arena Muktamar ke-35 NU, komunitas Nahdlatut Turots turut menggelar pameran sekitar 2.000 turots atau naskah peninggalan ulama dan karya keislaman klasik.

Sebagian dari sekitar 2.000 koleksi turots yang dipamerkan tersebut telah melalui proses digitalisasi.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026