HOME  ⁄  Nasional

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran Perkuat Operasi Udara untuk Percepat Pemadaman Karhutla

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran Perkuat Operasi Udara untuk Percepat Pemadaman Karhutla
Foto: Gubernur Kalteng Agustiar Sabran (sumber: Diskominfosantik Kalteng)

Pantau - Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran menginstruksikan penguatan seluruh lini penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk mengoptimalkan armada udara untuk mempercepat pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Agustiar menyampaikan arahan tersebut saat memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

“Kekuatan yang kita miliki harus dimaksimalkan. Untuk titik-titik yang sulit dijangkau melalui darat, operasi water bombing (pengeboman air) harus dioptimalkan agar pemadaman bisa dilakukan lebih cepat,” tegas Agustiar.

Menurut Agustiar, penguatan operasi water bombing menjadi langkah penting untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit ditangani melalui operasi pemadaman darat.

Lima Helikopter Dikerahkan, 15 Titik Belum Padam

Berdasarkan laporan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah Ahmad Toyib, masih terdapat 15 titik kebakaran yang belum berhasil dipadamkan.

Sementara itu, sebanyak 10 titik kebakaran yang sebelumnya termasuk lokasi dengan kondisi terparah telah berhasil dipadamkan.

Sebanyak lima unit helikopter water bombing telah dikerahkan untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara.

Dari lima helikopter tersebut, tiga unit masih aktif beroperasi, sedangkan dua lainnya sedang dalam tahap perawatan atau menunggu ketersediaan suku cadang.

Kondisi armada tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dengan tingkat kerawanan tinggi.

Agustiar meminta armada udara yang tersedia digunakan secara efektif dan diarahkan ke lokasi yang menjadi prioritas penanganan agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih cepat.

“Kita harus melihat titik mana yang paling membutuhkan intervensi dari udara. Jangan sampai sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal. Semua harus diarahkan untuk mempercepat pemadaman,” tegasnya.

Pemerintah daerah juga diminta menentukan titik kebakaran yang paling membutuhkan intervensi udara sehingga sumber daya dan armada yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Karhutla Capai 2.090 Kejadian, Ribuan Personel Dikerahkan

Secara keseluruhan, dilaporkan terdapat 38.916 titik panas di wilayah Kalimantan Tengah dengan jumlah kejadian karhutla mencapai 2.090 kejadian.

Berdasarkan laporan daerah, luas lahan yang terbakar mencapai 60.028,77 hektare, sedangkan hasil pantauan Sipongi mencatat luas lahan terbakar mencapai 7.634,46 hektare.

Penanganan karhutla diperkuat dengan pengerahan 7.208 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, dan relawan.

Jumlah personel tersebut ditargetkan dapat dioptimalkan hingga mencapai 10.700 orang, terutama untuk memperkuat operasi pemadaman melalui jalur darat.

Selain pemadaman dari darat dan udara, pemerintah terus menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai bagian dari upaya penanganan karhutla.

Pelaksanaan TMC telah menyelesaikan tiga periode operasi, sedangkan periode keempat berlangsung mulai 26 Agustus hingga 2 September 2026.

Palangka Raya hingga Seruyan Jadi Wilayah Prioritas

Agustiar meminta operasi pemadaman difokuskan pada wilayah dengan tingkat kerawanan dan dampak paling tinggi.

Wilayah prioritas tersebut meliputi Palangka Raya, Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur khususnya Sampit, Katingan, dan Seruyan.

Agustiar menegaskan operasi water bombing tidak dapat dilaksanakan secara terpisah dari pemadaman yang dilakukan pasukan di darat.

Koordinasi tim udara dan pasukan darat diperlukan agar lokasi yang telah ditangani melalui water bombing segera ditindaklanjuti personel di lapangan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul.

“Water bombing bukan berdiri sendiri. Harus terintegrasi dengan tim di darat. Setelah api ditekan dari udara, pasukan di lapangan harus memastikan titik tersebut benar-benar aman dan tidak muncul kembali,” jelasnya.

Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dilakukan melalui kombinasi optimalisasi armada udara, penguatan personel dan pemadaman darat, Teknologi Modifikasi Cuaca, serta koordinasi terpadu pada wilayah dengan tingkat kerawanan dan dampak paling tinggi.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026