
Pantau - Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman, Sumatera Barat, membentuk Kampung Sanitasi di Desa Koto Marapak, Kecamatan Pariaman Timur, sebagai upaya memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat sekaligus membantu memutus rantai stunting melalui peningkatan kualitas sanitasi dan lingkungan.
Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan pembangunan kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat agar program sanitasi dapat berjalan secara berkelanjutan.
"Membangun kesehatan masyarakat tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, dibutuhkan kerjasama dan partisipasi dari seluruh elemen masyarakat,” kata Yota.
Kolaborasi tersebut melibatkan Pemkot Pariaman, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Pariaman, Pemerintah Desa Koto Marapak, mahasiswa, organisasi profesi, tokoh masyarakat, hingga DPRD.
Sanitasi Jadi Bagian Penting Pembangunan Kesehatan
Yota mengatakan kondisi kesehatan masyarakat memiliki hubungan erat dengan keadaan lingkungan tempat mereka tinggal sehingga menjaga sanitasi menjadi bagian penting dalam penerapan nilai-nilai kehidupan yang baik.
"Kalau kita membuang sampah sembarangan, mencemari air, membiarkan lingkungan kotor atau tidak menjaga kebersihan rumah ibadah, berarti masih ada tanggung jawab kita terhadap lingkungan yang belum kita tunaikan," katanya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencemari sumber air, serta menjaga kebersihan rumah dan rumah ibadah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Rudy Repenaldi Rilis mengatakan derajat kesehatan masyarakat turut dipengaruhi kondisi lingkungan tempat tinggal.
"Air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, kebersihan rumah dan lingkungan, pemberantasan sarang nyamuk, serta perilaku hidup bersih dan sehat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kesehatan," kata Rudy.
Kampung Sanitasi di Desa Koto Marapak dicanangkan pada Jumat untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mendorong masyarakat menerapkan prinsip lingkungan sehat secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Rudy menilai Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), pencanangan Kampung Sanitasi, dan Program Bina Lingkungan HAKLI merupakan langkah strategis dalam pembangunan kesehatan sekaligus mendukung penanganan berbagai persoalan kesehatan, termasuk stunting.
Angka Stunting Pariaman Turun
Pemkot Pariaman mencatat prevalensi stunting menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, yakni dari 20,3 persen pada 2021 menjadi 18,4 persen pada 2022.
Angka stunting kembali turun menjadi 17,7 persen pada 2023 dan mencapai 15,7 persen pada 2024.
"Penurunan ini menunjukkan efektivitas intervensi lintas sektor serta komitmen kuat Pemerintah Kota Pariaman dalam percepatan penurunan stunting melalui berbagai program intervensi gizi spesifik dan sensitif, dukungan lintas sektor serta partisipasi aktif masyarakat," ujar Yota.
Menurut Yota, pencanangan Kampung Sanitasi menjadi bagian penting untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian penurunan stunting karena sanitasi yang baik mendukung terciptanya lingkungan sehat bagi tumbuh kembang anak.
HAKLI Dorong Lima Pilar STBM
Ketua HAKLI Kota Pariaman Syaiful Indra mengatakan program yang dijalankan di Desa Koto Marapak merupakan bagian dari keberlanjutan pembinaan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pembinaan HAKLI tersebut berfokus pada upaya mencapai secara maksimal lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
HAKLI Kota Pariaman dalam kegiatan tersebut menggunakan slogan “AYOK GAS” atau Ayo Kampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dengan tema 'Putus Rantai Stunting Dengan Sanitasi'.
Melalui Kampung Sanitasi, Pemkot Pariaman bersama berbagai pemangku kepentingan mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga sanitasi dan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan serta upaya berkelanjutan menekan stunting.
- Penulis :
- Arian Mesa




