
Pantau - PT Kereta Api Indonesia menerapkan pendekatan safety at scale dengan menetapkan 190 titik prioritas peningkatan keselamatan perlintasan sebidang pada 2026 seiring jumlah pelanggan KAI Group mencapai 307,86 juta orang sepanjang Januari-Juli 2026.
Jumlah pelanggan tersebut meningkat 8,32 persen dengan KAI Commuter melayani 242,93 juta pelanggan, sedangkan kereta api jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI mencapai 35,26 juta pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan jaringan dan intensitas perjalanan perlu diikuti dengan penguatan pengelolaan keselamatan.
“Semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan,” ujar Anne.
KAI Petakan Risiko di 1.214 Perlintasan Sebidang
Program peningkatan keselamatan pada 190 titik prioritas tersebar di sembilan Daop dan empat Divre dengan mencakup pembangunan gardu, penyediaan rambu, alat keselamatan dan komunikasi, petugas perlintasan tersertifikasi, serta pemasangan pintu perlintasan secara bertahap.
KAI juga melakukan pemetaan terhadap 1.214 titik perlintasan sebidang untuk menentukan tingkat risiko dan prioritas penanganan berdasarkan kondisi masing-masing lokasi.
Hasil pemetaan mencatat 43 lokasi masuk kategori risiko tinggi, 630 lokasi berisiko sedang, 538 lokasi berisiko rendah, serta tiga lokasi berada dalam kategori risiko sangat rendah.
“Pemetaan risiko membuat penanganan dapat disusun berdasarkan kondisi lapangan. Karakter lalu lintas jalan, status perlintasan, lingkungan, dan intensitas perjalanan kereta berbeda pada setiap lokasi,” kata Anne.
KAI bersama para pemangku kepentingan juga telah merealisasikan penutupan 172 lokasi perlintasan sebidang yang masuk dalam target program.
Teknologi dan Infrastruktur Keselamatan Diperkuat
Pada tingkat korporasi, Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2026 memasukkan penguatan Train Safety & Security System, intelligent rail service and inspection, digitalisasi sistem pengelolaan infrastruktur, serta modernisasi sarana sebagai bagian dari penguatan fondasi operasional dan organisasi.
Penguatan tersebut dilakukan untuk mengimbangi pertumbuhan mobilitas berbasis kereta api dengan sistem pengelolaan risiko yang semakin terukur.
“Teknologi dan fasilitas memberikan lapisan perlindungan. Disiplin pengguna jalan, kepatuhan terhadap rambu dan koordinasi antarinstansi melengkapi lapisan tersebut,” ujar Anne.
KAI Dorong Disiplin Pengguna Jalan
KAI menilai keselamatan di perlintasan sebidang tidak hanya bergantung pada fasilitas dan teknologi karena kawasan sekitar jalur kereta berinteraksi langsung dengan aktivitas masyarakat.
Partisipasi masyarakat melalui kepatuhan terhadap rambu dan disiplin ketika melintasi jalur kereta menjadi bagian dari sistem keselamatan yang diterapkan bersama penguatan infrastruktur.
“World-class railway dimulai dari kemampuan tumbuh dengan aman. Ketika jumlah perjalanan meningkat, standar pengelolaan risiko juga harus semakin matang,” tutup Anne.
- Penulis :
- Gerry Eka




