HOME  ⁄  Nasional

El Nino Melanda Musim Kemarau, Produksi Beras Sidrap Tetap Capai 10 Ton per Hektare

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

El Nino Melanda Musim Kemarau, Produksi Beras Sidrap Tetap Capai 10 Ton per Hektare
Foto: Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif (tehgah) berada di area persawahan untuk mengecek kondisi pengairan, tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Watang Pulu, Baranti, dan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu (29/8/2028).

Pantau - Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap) Syaharuddin Alrif menyatakan fenomena El Nino pada musim kemarau tidak berdampak signifikan terhadap produksi beras di wilayahnya karena pemerintah daerah melakukan sejumlah intervensi untuk menjaga ketersediaan air bagi persawahan.

"Dampak El Nino memang ada, tetapi tidak berpengaruh besar pada hasil panen di Sidrap. Kami berupaya membantu petani mendapatkan air untuk sawah mereka dengan bantuan sarana dan prasarana," tutur Syaharuddin saat berbincang dengan wartawan di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (30/8/2026).

Syaharuddin mengatakan dampak kekeringan lebih dirasakan masyarakat di daerah produksi pangan dibandingkan masyarakat perkotaan yang tetap memperoleh pasokan melalui distribusi pangan.

"Mungkin, yang tinggal di Ibu Kota seperti di Makassar itu tidak begitu merasakan. Tapi, kalau punya keluarga di daerah, coba ditanyakan sendiri bagaimana kerja keras mengatasi dampak kekeringan ini," ucapnya.

Pompanisasi Jangkau 10.965 Hektare Sawah

Pemerintah Kabupaten Sidrap melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan menyalurkan bantuan pompanisasi dan menjalankan program listrik masuk sawah untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.

Kepala DTPHPKP Sidrap Ibrahim mengatakan pemerintah juga memberikan bantuan bahan bakar dan sarana pendukung kepada petani agar tanaman padi tetap terawat hingga masa panen.

"Kita sudah menyerahkan bantuan pompa dan BBM Pertalite, tabung gas LPG, serta token listrik. Ini dilakukan agar petani kita bisa merawat padi sampai panen dengan hasil maksimal," kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, program tersebut telah menjangkau 2.193 titik bor yang melayani 10.965 hektare persawahan terdampak kekeringan.

"Program ini sudah menjangkau 2.193 titik bor di titik sasar, untuk melayani 10.965 hektare persawahan terdampak kekeringan," katanya.

Berbagai intervensi tersebut bersama kerja penyuluh pertanian membuat lahan pertanian tetap produktif meski menghadapi musim kemarau.

Produksi Padi Bertahan di Tengah Kekeringan

Kabupaten Sidrap memiliki luas wilayah 188.325 hektare dengan luas baku persawahan mencapai 52.227 hektare dan menjadi salah satu daerah penghasil beras.

Produksi gabah kering panen di Sidrap tercatat berkisar 434.000 hingga 663.000 ton per tahun dengan produktivitas antara 10 sampai 12 ton gabah per hektare pada masa panen.

Di tengah kondisi kekeringan, produksi padi di daerah berjuluk Bumi Nene Mallomo tersebut masih mencapai sekitar 10 ton per hektare dengan dukungan sistem irigasi terpadu.

Data Pemkab Sidrap mencatat Kelurahan Majjelling Wattang, Kecamatan Maritengngae, memiliki lahan seluas 300 hektare dengan 52 hektare di antaranya menerapkan IP300 atau pola panen gabah tiga kali dalam setahun.

Lahan di wilayah tersebut masih menghasilkan sekitar 10 hingga 12,3 ton gabah per hektare di tengah kondisi kekeringan ekstrem.

Di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, lahan milik petani Idris Lakna menghasilkan 10 ton gabah per hektare dengan hasil Rp83 juta dalam sekali panen.

Sementara itu, lahan persawahan sekitar 481 hektare di Desa Padangloang, Kecamatan Dua Pitue, juga mencatat hasil panen rata-rata sekitar 10 ton per hektare.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026