
Pantau - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) menyatakan pencalonannya sebagai kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merupakan tugas dan amanah dari Presiden Prabowo Subianto.
Budi mengatakan pencalonan tersebut berkaitan dengan upaya menghadirkan pemimpin lembaga internasional yang dapat mewakili kepentingan negara-negara berkembang atau Global South.
Menurut Budi, Indonesia merupakan negara besar, tetapi hingga kini belum pernah memiliki perwakilan yang menduduki posisi orang nomor satu di lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Presiden Prabowo, kata Budi, melihat adanya kesempatan bagi Indonesia untuk mengambil peran tersebut melalui pencalonannya sebagai Dirjen WHO.
"(Pencalonan, red.) itu kan amanah dari Bapak Presiden yang menyampaikan bahwa kita adalah negara besar, tetapi belum pernah menjadi orang nomor satu di lembaga PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Jadi, Beliau melihat ada kesempatan seperti itu, ya (saya, red.) diminta agar cobalah maju. Ya, saya kalau ditugaskan oleh Bapak Presiden, harus kita lakukan," kata Budi.
Budi Soroti Pentingnya Suara Global South
Budi menilai keterwakilan negara-negara Global South dalam kepemimpinan lembaga internasional penting karena negara-negara berkembang memiliki jumlah populasi yang relatif besar.
Menurutnya, banyak negara menilai suara dan kepentingan negara-negara berkembang perlu lebih banyak didengar dalam pengambilan kebijakan di tingkat internasional.
Selain memiliki populasi yang besar, negara-negara berkembang juga menghadapi kondisi ekonomi yang relatif lebih miskin sehingga membutuhkan keterwakilan dalam kepemimpinan lembaga-lembaga dunia.
WHO menjadi salah satu lembaga internasional yang dinilai penting memiliki keterwakilan negara berkembang pada tingkat kepemimpinannya.
"Banyak sekali negara-negara yang merasa bahwa perwakilan atau suara dari negara-negara berkembang atau Global South ini harus lebih didengar, karena mereka kan dari sisi populasi lebih banyak dan lebih miskin sehingga perlulah ada wakil dari negara-negara Global South atau negara-negara berkembang di pimpinan lembaga-lembaga dunia seperti (WHO, red.) ini," ungkap Budi.
Budi juga mengungkapkan Presiden Prabowo memberikan pesan khusus agar dirinya dapat mewakili kepentingan negara-negara berkembang apabila mengikuti proses pemilihan Dirjen WHO.
"Beliau menitipkan amanah ke saya, kalau bisa wakililah negara-negara berkembang ini agar mendapatkan perhatian di tataran global," kata Budi.
Empat Kandidat Masuk Bursa Dirjen WHO
Budi menjelaskan proses pemilihan Dirjen WHO masih akan melalui tahapan yang cukup panjang sebelum kandidat mengerucut menjadi tiga calon.
Menurutnya, masih terdapat sekitar dua tahapan yang harus dilalui dalam proses tersebut.
Berdasarkan laman resmi WHO yang terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2026, terdapat empat kandidat dalam bursa pemilihan Dirjen WHO yang masing-masing diusulkan oleh satu negara.
Keempat kandidat tersebut adalah Budi Gunadi Sadikin yang diusulkan Indonesia, Hans Henri P. Kluge dari Belgia, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar.
WHO merupakan organisasi kesehatan dunia di bawah naungan PBB yang saat ini dipimpin Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Tedros, yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan Menteri Kesehatan Ethiopia, menjadi orang pertama dari Benua Afrika yang terpilih sebagai Dirjen WHO.
Tedros pertama kali menjabat sebagai Dirjen WHO untuk periode 2017–2022 dan kembali memimpin organisasi tersebut untuk periode kedua pada 2022–2027.
- Penulis :
- Leon Weldrick




