
Pantau - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mendorong pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di wilayah dengan dampak kesehatan tertinggi akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) untuk mempercepat penanganan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap Karhutla di sejumlah daerah harus ditangani sebagai kedaruratan kesehatan berbasis paparan, bukan hanya sebagai kenaikan kunjungan pasien di fasilitas kesehatan,” kata Yahya Zaini kepada Parlementaria dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Yahya meminta penanganan diprioritaskan di daerah dengan jumlah kasus dan tingkat paparan tinggi, termasuk Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
“Penetapan KLB memungkinkan penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi,” tuturnya.
Jutaan Penduduk Terdampak Karhutla
Berdasarkan paparan Kementerian Kesehatan per 25 Agustus 2026, kasus ISPA di Kalimantan Barat mencapai 165.747 kasus dalam kurun tujuh bulan, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat sekitar 18.423 kasus.
Kalimantan Tengah mencatat lebih dari 3.000 kasus pada periode 10–16 Agustus, sementara kasus ISPA secara kumulatif di Riau hingga akhir Agustus mencapai 3.293 kasus.
Data tersebut juga menunjukkan sekitar 3,4 juta penduduk terdampak Karhutla di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Selain ISPA, dampak kesehatan akibat Karhutla meliputi asma, iritasi kulit, dan konjungtivitis.
Kelompok Rentan dan Petugas Diminta Dilindungi
Yahya meminta pemerintah memperkuat perlindungan terhadap anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan jantung berdasarkan tingkat paparan kabut asap di setiap wilayah.
“Termasuk pembatasan aktivitas luar ruang, penyesuaian jam kerja dan pembelajaran, pengoperasian ruang aman udara bersih, serta pengerahan pelayanan kesehatan bergerak,” ungkap Yahya.
Pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan layanan kesehatan, obat-obatan, oksigen, serta masker yang mampu menyaring partikel halus bagi masyarakat terdampak dan petugas lapangan.
“Puskesmas dan rumah sakit harus melaporkan kasus ISPA, asma, pneumonia, iritasi mata, gangguan kulit, serta perburukan penyakit jantung dan paru berdasarkan kecamatan dan kelompok usia,” jelasnya.
Yahya turut meminta perlindungan kesehatan bagi petugas dan relawan yang menghadapi paparan asap tebal, panas ekstrem, serta kondisi medan berat selama menangani Karhutla.
“Maka perlindungan keamanan, keselamatan, dan kesehatan harus dilakukan dengan maksimal bagi para petugas dan relawan yang membantu penanganan Karhutla,” pungkasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




